Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol. 15 No. 1, Juni 2021, p. 47 - 54 47 MULTIPLIKASI Aquilaria malaccensis DENGAN NAA DAN RAGI PADA KULTUR IN VITRO Multiplication of Aquilaria malaccensis with NAA and yeast on in vitro culture Samanhudi¹, Amalia Tetrani Sakya², Edi Purwanto², Indah Tri Retnosari² ¹Kontributor Utama, ¹˒²Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta, Indonesia email penulis korespondensi: samanhudi@staff.uns.ac.id Tanggal diterima: 02 Juni 2021, Tanggal direvisi: 07 Juni 2021, Disetujui terbit: 28 Juni 2021 ABSTRACT Aquilaria malaccensis is almost extinct in several countries because of its great demand and high economic value. Tissue culture is one way to overcome the extinction. This study aims to obtain the best concentration of NAA (Naphthalene Acetic Acid) and yeast extract for multiplication of A. malaccensis on in vitro culture. This research was conducted from January to October 2020 at the Laboratory of Plant Physiology and Biotechnology, Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. The experimental design used was a factorial completely randomized design (CRD) with two factors, namely NAA (0 ppm; 0.1 ppm; 0.2 ppm; and 0.3 ppm) and yeast extract (0 mgL -1 , 700 mgL -1 , 800 mgL -1 , and 900 mgL -1 ). The variables observed included the time of emergence of shoots, number of shoots, number of leaves, and number of roots. The results showed that the highest number of shoots (3.67 shoots), leaves (24.5 leaves), and roots (3 roots) were found in the combination of 0 ppm NAA and 900 mgL -1 yeast, 0 ppm NAA, and combination of 0.1 ppm NAA and 0 mgL -1 yeast, respectively. Keywords: agarwood, plant growth regulator, tissue culture, subculture ABSTRAK Aquilaria malaccensis hampir mengalami kepunahan di berbagai negara karena permintaannya yang besar dan nilai ekonominya yang tinggi. Kultur jaringan merupakan salah satu cara untuk mengatasi kepunahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi NAA (Naphthalene Acetic Acid) dan ekstrak ragi terbaik untuk pertumbuhan A. malaccensis secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Oktober 2020 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor yaitu NAA (0 ppm; 0,1 ppm; 0,2 ppm; dan 0,3 ppm) dan ekstrak ragi (0 mgL -1 , 700 mgL -1 , 800 mgL -1 , dan 900 mgL -1 ). Variabel yang diamati meliputi waktu kemunculan tunas, jumlah tunas, jumlah daun, dan jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tertinggi tunas (3,67 tunas), daun (24,5 daun), dan akar (3 akar) berturut-turut terdapat pada kombinasi NAA 0 ppm dan ragi 900 mgL -1 , NAA 0 ppm, dan kombinasi NAA 0,1 ppm dan ragi 0 mgL -1 . Kata kunci: gaharu, zat pengatur tumbuh, kultur jaringan, subkultur I. PENDAHULUAN Aquilaria malaccensis termasuk dalam famili Thymelaeaceae yang dikenal sebagai Agarwood, didistribusikan dari India (Bengal dan Assam) ke Papua Nugini melalui Burma (Tenasserim), Indo-Cina (Kamboja, Annam dan Cochinchina), Cina (Hongkong dan Hainan), Malaysia, Singapura, Filipina, Indonesia, dan Thailand (Thapa et al., 2020). A. malaccensis atau disebut juga dengan kayu gaharu, merupakan jenis kayu dengan berbagai warna, bentuk, dan aroma yang khas, sebagai mekanisme pertahanan diri dari tekanan biotik maupun abiotik (De Alwis et al., 2019). Menurut Dharmasena dan Arunakumara (2020), gaharu banyak dimanfaatkan sebagai parfum terapeutik, obat tradisional, bahan makanan aromatik, serta untuk tujuan keagamaan. Permintaan A. malaccensis yang semakin tinggi di pasar lokal dan internasional mengakibatkan perburuan liar menjadi tidak terkendali sehingga populasi pohon penghasil gaharu semakin menurun. Wang et al. (2018) menjelaskan bahwa jenis tanaman