SPERMONDE (2017) 3(1): 13-19 ISSN: 2460-0156 KEBERHASILAN REHABILITASI TERUMBU KARANG AKIBAT PERISTIWA BLEACHING TAHUN 2016 DENGAN TEKNIK TRANSPLANTASI Successfullnes of Coral Reef Rehabilitation by Bleaching Events In 2016 With Transplantation Technique Chair Rani 1 , Akbar Tahir 1 , Jamaluddin Jompa 1 , Ahmad Faisal 1 , Syafyudin Yusuf 1 , Shinta Werorilangi 1 , Arniati 1 Diterima: 21 Februari 2017 Disetujui 5 Maret 2017 ABSTRACT The purpose of this study was to analyze the succesfullnes use of two coral reef transplantation methods in the rehabilitation of coral reefs damaged by the phenomenon of bleaching in 2016 at the waters of Liukangloe Island, Bulukumba, South Sulawesi. In this study two methods were implemented, i.e. methods frame-spider and methods of nails-natural substrates, with 5 units as replication, respectively. A total of three kinds of branching corals weretransplanted, namely Acropora robusta, Porites cylindrica, and Pocillopora verrucosa. On each unit transplantation models, attached 6 coral fragments with branch length of 5-12 cm for each kind of corals. A total of 3 fragments for each species of corals were labeled and coded for the survival rate and absolute growth monitoring. All fve unit of experiments on each model are placed on two areas separately and placed randomly with depths ranging from 3-4 m in the northern part of island. Observations survival rate and absolute growth of coral transplant were conducted for every 2 weeks for 28 days by counting the dead coral fragment or missing and measure the length of transplant coral branch with a measuring ruler. The effectiveness of the two methods was analyzed based on the survival and growth of the absolute value of coral transplant. Survival rate were analyzed descriptively and the average values of absolute growth were analyzed by t-student. The use of frame-spider methods and methods of nails-natural substrates as effective in rehabilitating the coral reefs from bleaching phenomenon based on the parameters of survival and growth of Acropora robusta, Porites cylindrica, and Pocillopora verrucosa Keywords: Transplantation methods, coral reef, bleaching coral, Liukang Loe Island sampai 20 persen dikarenakan El Nino, pola cuaca alam yang menandakan kehangatan suhu permukaan laut di Laut Pasifk. El Nino tahun ini dianggap sebagai yang terkuat sepanjang sejarah. Seiring dengan peningkatan suhu global terjadi peningkatan suhu perairan di Selat Makassar dan Laut Flores dari rata-rata 27 o C menjadi 30 o C, atau anomali sebesar 3 o C (http://www. thejakartapost.com/ news/2016/03/18/bulukumba- coral-reefs-threatened-with-extinction.html, 2016). Pulau Liukang Loe, yang terletak di Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Laut Flores. Berdasarkan hasil investigasi dari Marine Science Diving Club, Universitas Hasanuddi pada bulan Maret 2016 ((http://www. thejakartapost.com/ news/ 2016/03/18/bulukumba-coral-reefs-threatened- with- extinction. html, 2016), telah terjadi coral bleaching atau pemutihan karang dengan tutupan lebih besar dari 50% dan menyebabkan kerusakan karang hidup > 40 %. Di perairan Pulau Liukang Loe, kerusakan terumbu karang akibat peristiwa bleaching > 50%. Sebagai salah satu lokasi destinasi wisata bahari hal ini menjadi permasalahan sendiri bagi wisatawan, pemandu serta pemerhati wisata bahari di Tanjung Bira. Terumbu karang di pulau ini mengandalkan keindahan alma bawah lautnya sebagai daya tarik wisata, bahkan beberapa titik penyelaman (sebelah barat dan tenggara pulau) sering dikunjungi oleh wisatawan untuk menikmati panorama karang dan ikan-ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Kematian karang akibat peristiwa bleaching dengan sendirinya menjadi masalah karena menurunnya daya tarik (keindahannya PENDAHULUAN Menurut penilaian dari lembaga internasional tentang perubahan Iklim (Mann &Kump 2009), sebagai akibat dari perubahan iklim pada pesisir dan perairan adalah kenaikan muka air laut, sebagai penyebab terjadinya berbagai bencana seperti erosi pantai, perubahan sedimen peantai, menghambat transportasi dan banjir pasang pada daerah pesisir, bahkan menyebabkan kerusakan pada ekosistem khususnya pada ekosistem mangrove dengan adanya peningkatan kadar garam. Selain itu perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem karang. Peningkatan suhu permukaan air laut dari 1 hingga 3 derajat celsius menyebabkan karang stress dan pada akhirnya terjadi bleacing (Pemutihan karang) dan kematian serta kerusakan terumbu karang. Dirilis dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) http://teknologi.news. viva.co.id/news/read/704128- 2015-2016--akan-jadi-tahun-terpanas-sepanjang- masa; 2016) bahwa tahun 2015-2016 merupakan tahun terpanas sepanjang sejarah akibat dari terjadinya gejalah el-nino. Rata-rata suhu permukaan bumi antara tahun 2015-2016 telah mencapai apa yang disebut oleh WMO sebagai “symbolic and signifcant milestone” sekitar 1 derajat celsius dari era pra-industrial tahun 1880-1899, dan sekitar 0,73 derajat celsius di atas rata- rata tahun 1961-1990. Kenaikan itu terjadi sekitar 16 1 Departemen Ilmu Kelautan, FIKP, Universitas Hasanuddin Chair Rani ( ) Jl. Perintis Kemerdekaan, Km.10. Tamalanrea Makassar 90245. Email: erickch_rani@yahoo.com