MARGINALISASI GENDER DALAM TEKS SATUA …. Ida Bagus Gede Paramita ( 91-100 ) 91 MARGINALISASI GENDER DALAM TEKS SATUA TANTING MAS DAN TANTING RAT Ida Bagus Gede Paramita STAHN Mpu Kuturan Singaraja Email: ibgparamita@gmail.com ABSTRACT The purpose of this study is to examine the gender marjinalization in the texts of the satua Bali Tanting Mas and Tanting Rat. The aspect studied in this article is the relationship between text and context, the characters contained in the unit are seen as aspects of ideology, power and how things are in today's society. The method used in this research is qualitative method. Primary data was obtained from the text of the "satua" Tanting Mas and Tanting Rat, while secondary data was obtained from books and online publications that support the research discussion. The collected data is then selected to assist the analysis and the last step is drawing conclusions. The result of this research is the discovery of a culture that has been built that patriarchal ideology, women are marginalized figures, both those depicted in the texts of Tanting Mas and Tanting Rat as well as in their social reality. Keywords: Maginal, Gender and satua I. PENDAHULUAN Peranan sastra dalam kehidupan masyarakat banyak memberikan manfaat untuk para pembaca. Sastra juga mempunyai gambaran tentang kehidupan masyarakat yaitu memiliki suatu kenyataan sosial (Sapardi Djoko Damono dalam Pradopo, 2001:157). Sastra sebagai penggambaran kehidupan masyarakat untuk mengungkapkan gagasan, ide atau sebuah pikiran dalam masyarakat. Sastra yang baik berupa sastra yang dapat menciptakan kerjasama dengan masyarakat. Sastra menyajikan kehidupan dan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial (masyarakat) walaupun karya sastra meniru alam dan subjektif manusia (Wellek dan Warren, 1990:109). Dunia sastra sebagian besar banyak mengungkapkan fenomena berkaitan dengan kenyataan sosial. Setiap pengarang menghasilkan karya sastra yang bermutu sehingga semakin berkembangnya produktivitas dan kualitasnya. Fungsi sosial karya sastra banyak melibatkan kehidupannya ditengah–tengah masyarakat, dalam aspek sosial juga memiliki rasa toleransi dalam lingkungan masyarakat (Semi, 1989 : 56). Fenomena sosial yang terjadi di masyarakat bisa direpresentasikan dalam berbagai cerita lisan atau dalam bentuk karya sastra. Kompleksitas permasalahan yang terjadi di masyarakat menjadi suatu keharusan bagi kita bersama untuk membentengi diri dengan nilai moral dan iman yang kuat agar dapat menjaga diri dan tidak terjerumus dalam permasalahan. Untuk dapat menghindari permasalahan ini sebenarnya banyak cara yang dapat ditempuh, misalnya harus pandai dalam pergaulan, sebab dalam pergulan inilah akan terjadi banyak berinteraksi dengan lingkungan. Kesalahan bergaul pada suatu habit tertentu secara tidak langsung akan berpengaruh juga pada tingkah laku, misal akan berperilaku negatif. Kesimpulannya