GEMA Lingkungan Kesehatan Vol. 19 No. 01 Januari 2021 49 PENGARUH PERILAKU HIDUP BERSIH dan SEHAT TERHADAP PENULARAN SKABIES (Studi Kasus Pada Lembaga Permasyarakatan Kelas 1 Malang Tahun 2020) Dinda Pratiwi*, Irwan Sulistio, Deddy Adam, Ferdian Akhmad Ferizqo Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya *Email korespondensi: nasandapratiwi@gmail.com ABSTRAK Penderita skabies selama bulan Juni-Okteber 2019 di klinik kesehatan Lembaga Permasyarakatan Kelas 1 Malang sebanyak 681 penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab banyaknya penularan skabies di Lapas Kelas 1 Malang. Desain penelitian ini dalah kuantitatif dengan metode analitik. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dengan sampel sebanyak 97 dari 3200 populasi, dengan uji statistic Chi Square tingkat kepercayaan 95%. Terdapat 97 warga binaan permasyarakatan yang menjadi sampel penelitian, warga binaan di Lembaga Permasyarakatan Kelas 1 Malang yang menderita penyakit skabies sebanyak 64 (66%) dan 33 (34%) warga binaan yang pernah mengalami penyakit skabies. 69 responden memiliki tingkat pengetahuan PHBS yang kurang, 58 narapidana memiliki sikap PHBS kurang, 59 narapidana memiliki tindakan PHBS kurang, 71 warga binaan memiliki perilaku hidup bersih dan sehat kurang. Tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan penularan penyakit scabies di Lembaga Permasyarakatan Kelas I Malang. PHBS perlu ditingkatkan melalui kegiatan pemeriksaan dan pemberian obat secara rutin terlebih kepada penderita scabies. Perlunya dilakukan penyuluhan kesehatan tentang penyakit yang rentan terjadi di Lembaga Permasyarakatan. Demi meningkatkan terlaksananya PHBS didalam Lapas Klas I Malang maka sarana sanitasi dan kondisi lingkungan Lapas perlu ditingkatkan. Untuk peneliti selanjutnya perlu diadakan penelitian lanjutan dengan faktor kondisi fisik lingkungan dan sarana sanitasi. Kata Kunci: Skabies, Lembaga Permasyarakatan (Lapas), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. PENDAHULUAN Penyakit skabies merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012 penyait kulit dan jaringan subkutan menempati peringkat kedua setelah ISPA. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit adalah skabies (Depeks RI, 2012). Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabei var. Hominis Sarcoptes scabei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo aracarina, famili Sarcoptidae. Skabies sering kali diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas penanganannya rendah. Akan tetapi, penyakit ini dapat menjadi kronis dan berat serta menimbulkan kompilasi yang berbahaya. Lesi pada skabies menimbulkan rasa tidak nyman karena sangat gatal, sehingga penderita seringkali menggaruk dan mengakibatkan infeksi sekunder. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain keadaan sosial ekonomi yang rendah, kebersihan yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik seperti keadaan penduduk dan ekologi. Keadaan tersebut memudahkan transmisi dan infestasi Sarcoptes scabiei. Oleh karena itu, Prevalensi skabies yang tinggi umumnya ditemukan di lingkungan dengan kepadatan penghuni dan kontak interpersonal yang tinggi seperti asrama,