BID’AH DAN SUNNAH DALAM PANDANGAN KH. M. HASYIM ASY’ARI (1287 H-1366 H). Oleh Samsurrohman. 1 Abstrak. Hasyim Asy’ari merupakan salah satu dari sekian banyaknya kiyai-kiyai Nusantara yang memiliki pengaruh sangat besar, khususnya dalam penyebaran dan dakwah Islam di nusantara. Tidak hanya itu, bahkan Hasyim Asy’ari menjadi cikal bakal bagi berdirinya ormas Islam terbesar di nusantara ini, yang berupaya untuk menjaga keutuhan akidah serta keyakinan masyarakat bumi pertiwi. Hasyim Asy’ari dengan pengaruhnya yang begitu besar, mampu menggerakkan masyarakat untuk mempertahankan bumi pertiwi, serta memperjuangkannya mendapatkan kemerdekaan. Di akhir abad Sembilan belas masehi, kenyamanan serta keharmonisan beragama dan berakidah, mulai gencar mendapatkan serangan pembaruan, yang notabene di bumi pertiwi ini, banyak menimbulkan keresahan masyarakat, khususnya umat Islam. Hal itu dikarenakan datangnya pera pembaharua yang menganut paham Abduhian, dengan slogan semangat barunya “kembali ke Al Qur’an dan Hadits”, dengan mengesampingkan pendapat para madzhab serta ulama-ulama. Namun yang menjadi pertanyaan besar, apakah hal itu mampu dilakukan tanpa melihat mata rantai keilmuan serta turats yang menjadi jembatan estafet keilmuan bagi agama yang dibawa dan disebarkan oleh Nabi Muhammas Saw. Gerakan pembaharuan Islam itu sebenarnya bukanlah suatu yang tidak baik, namun cara serta langkah dari gerakan yang seharusnya mempertimbangkan nilai-nilai pokok agama itu sendiri, paling tidak, senantiasa menjaga nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. Sehingga tidak mudah menyalahkan, menyesatkan, mengkufurkan ataupun membid’ah-bid’ahkan orang maupun pengiman keyakinan lain. Kara Kunci: Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlissunnah Wal Jama’ah, Bid’ah dan Sunnah. 1 Dosen Tetap Fakultas Komunikasi dan Sosial Politik (FKSP) Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo.