247 © 2020 Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 18 Issue 2 (2020) : 247-252 ISSN 1829-8907 Bioenergi Pedesaan: Solusi Konflik Sosial-Ekologi dan Pembangunan Berkelanjutan Dedy Irawan 1 , Arya Hadi Dharmawan 2 , dan Titik Sumarti 2 1 Mahasiswa Program Magister Sosiologi Pedesaan pada Departeman Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor ; e-mail: dedyirawandaeng@gmail.com 2 Staf Pengajar pada Departemen Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis sebuah resolusi konflik antara petani vs industri tahu berupa pengolahan bioenergi limbah tahu. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan pengambilan data melalui wawancara mendalam, kuesioner dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi antara kelompok industri tahu vs kelompok petani berupa konflik laten. Pemicu terjadinya konflik disebabkan oleh limbah cair tahu yang mencemari lingkungan dan merusak lahan pertanian. Lahirnya resolusi konflik berupa pengolahan bioenergi memberikan tiga keuntungan; Pertama secara sosial, yaitu meredam konflik antara petani dengan industri tahu. Kedua, keuntungan secara ekologi, yaitu mengurangi pencemaran lingkungan. Ketiga, keuntungan secara ekonomi, yaitu memberikan keuntungan kepada petani dan industri tahu. Kata kunci: Konflik sosial-ekologi, Limbah cair tahu, Resolusi konflik, Bioenergi ABSTRACT This study aims to analyze a conflict resolution between farmers vs tofu industry in the form of tofu bioenergy processing. This study uses a mixed method with data collection through in-depth interviews, questionnaires and observations. The results of this study indicate that the conflict between the tofu industry group vs. the farmers group is latent conflict. The trigger for the conflict is caused by tofu liquid waste that pollutes the environment and damages agricultural land. The birth of conflict resolution in the form of bioenergy processing provides three benefits; First socially, which is to reduce conflicts between farmers and the tofu industry. Second, ecological benefits, namely reducing environmental pollution. Third, the economic benefits, namely providing benefits to farmers and tofu industry. Keywords: Socio-ecological conflict, Tofu wastewater, Conflict resolution, Bioenergy Citation: Irawan, D., Dharmawan, A.H., dan Sumarti, T. (2020). Bioenergi Pedesaan: Solusi Konflik Sosial-Ekologi dan Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 18(2), 247-252, doi:10.14710/jil.18.2.247-252 1. Latar Belakang Banyaknya sektor industri yang berkembang di pedesaan diharapkan mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran di pedesaan. Meski pada kenyataannya perkembangan industri pedesaan tidak hanya memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi namun juga menjadi penyebab utama perubahan kualitas lingkungan (Cherniwchan 2012). Banyak kasus kerusakan lingkungan dan alam yang disebabkan oleh berkembangnya ekonomi industri di suatu wilayah, seperti yang terjadi di negara-negara di Cina (Ebstein 2012), Amerika, Argentina, India (Dhami et al 2013), dan di kawasan Afrika (Evelyn & Tyav 2012). Tidak sedikit kasus konflik terjadi akibat perubahan lingkungan, seperti kasus konflik lingkungan di Argentina (Lumerman et al, 2011). Pencemaran lingkungan tidak hanya terjadi di sekitar kawasan industri besar, tetapi juga bisa terjadi di sekitar industri berskala kecil terutama di pedesaan. Sebagian besar agro-industri pedesaan masih mengandalkan teknologi bertenaga manusia dalam proses pengolahan (Derbile1 et al 2012). Modal yang terbatas menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh sebagian besar industri ini. Hal inilah yang mempengaruhi kinerja pabrik-pabrik kecil terutama di pedesaan dalam hal proses produksi, pemasaran, hingga pengolahan limbah (Ameyaw & Omari 2015). Salah satu jenis agroindustri kecil yang banyak berkembang di wilayah pedesaan adalah industri tahu. Indonesia merupakan salah satu produsen tahu yang cukup produktif baik pada skala rumahan maupun industri besar, dengan jumlah industri mencapai 84.000 unit (Widayat et al 2019). Dalam setahun rata-rata jumlah limbah cair tahu yang dihasilkan di Indonesia sebanyak 57.942 x 10 10 kilogram, dengan tingkat konsumsi tahu di Indonesia mencapai 7,4 kg/orang/tahun (Dianursanti et al 2014). Air limbah yang dihasilkan oleh industri tahu ini sangat berpotensi mencemari lingkungan (Rahayu et al 2016). Kebanyakan dari industri tahu skala kecil tidak mengolah limbah terlebih dahulu sebelum dibuang. Hal ini karena biaya yang dibutuhkan untuk pengolahan sangat tinggi (Faisal et al 2016). Ketika dibuang langsung ke lingkungan, limbah cair tahu dapat menyebabkan bau dan polusi pada air dan juga tanah, sehingga diperlukan pengolahan (Belén et al 2012). Pengolahan limbah yang tidak