2 Laporan Kasus SRS MULTISTAGED SEBAGAI TATALAKSANA AVM BERUKURAN BESAR Rhandyka Rafli, Soehartati Gondhowiardjo, Sri Mutya Sekarutami Departemen Radioterapi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Informasi Artikel Abstrak / Abstract Riwayat Artikel: Diterima November 2012 Disetujui Desember 2012 Seorang pria 38 tahun dengan keluhan sakit kepala dan perdarahan intrakranial. Pada DSA memperlihatkan AVM regio parietal kiri Spletzer martin IV dengan ukuran 16,9 cc. Pasien menjalani Stereotactic RadioSurgery Multistaged. SRS stage 1 dilakukan pada bagian superior AVM dengan ukuran 10 cc dan diberikan dosis marginal 16 Gy. Evaluasi MRI 3 bulan setelah stage 1 memperlihatkan pengecilan nidus, dan 5 bulan setelah SRS staged 1 dilakukan SRS stage 2 pada seluruh nidus yang berukuran 10 cc dengan dosis marginal 14 Gy. Pasien mengalami satu kali kejang diantara SRS tanpa defisit neurologis. Kata kunci: AVM berukuran besar, SRS multistage Alamat Korespondensi: Dr. Rhandyka Rafli Departemen Radioterapi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta E mail: bubuyrafli123@yahoo.com A 38 old years man with presentation of headhace and intracranial bleeding. DSA is showing AVM region left parietal with Spletzer Martin IV and total nidus size 16,9 cc. The patient is undergo Stereotactic radiosurgery multistage. SRS stage 1 is targeting superior component of AVM, 10 cc in size, with 16Gy marginal dose. MRI were evaluated 3 month after stage 1 is showing shrinkage of nidus size. SRS stage 2 is done 5 month after the first stage on whole nidus 10 cc in size at that time. The dose is 14 at marginal. Seizure is happen once in betwen SRS without neurological deficit. Key words: large AVM, SRS multistage Hak cipta ©2013 Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia Pendahuluan AVM (arteriovenous malformations) adalah anyaman kompleks arteri dan vena yang terhubung oleh fistula tanpa pembuluh kapiler. Arteri yang terlibat mengalami defisiensi lapisan otot dan draining vena cenderung berdilatasi karena tekanan darah yang tinggi dari fistula. AVM intrakranial adalah kelainan yang relatif jarang. 90% AVM intrakranial terjadi di supratentorial. Berdasarkan ukuran AVM dibagi menjadi AVM kecil (< 3cm) dan AVM besar (>3cm). 1,2,3 Patogenesis dari AVM tidak sepenuhnya dimengerti, sebagian besar bersifat teoritis. AVM diperkirakan berkaitan dengan kelainan arteri dan vena primordial. AVM mulai terbentuk sejak embrio masih berukuran 40-80 mm. Plexus pembuluh primordial awalnya berdiferensiasi menjadi afferen, efferen dan komponen kapiler. Bagian yang lebih superfisial dari plexus menjadi pembuluh darah besar seperti arteri dan vena dan bagian plexus yang lebih dalam menjadi komponen kapiler yang melekat pada permukaan serebral. Sirkulasi darah otak mulai terlihat pada akhir minggu ke 4 embrio, dimana AVM muncul dari koneksi langsung arteri dan vena yang persisten dengan kegagalan pembentukan jaringan kapiler. 4,5 Tidak ada faktor resiko demografi dan lingkungan yang dikaitkan dengan kejadian AVM. Namun, kelainan genetik yang jarang seperti : Osler- Weber-Rendu syndrome (hereditary hemorrhagic telangiectasia), Sturge-Weber disease, neurofibromatosis, dan von Hippel-Lindau syndrome ditemukan pada sebagian kecil pasien AVM. 1,2,6 Tanda dan Gejala Gejala AVM bisa berupa perdarahan otak, kejang, sakit kepala atau perburukan neurologi yang progresif. Kebanyakan AVM diketahui dari gejala perdarahan intrakranial yang tiba-tiba, yang bisa berakibat fatal atau hanya menyebabkan sakit kepala dengan atau tanpa defisit neurologis baru. 1,2,3 Radioterapi & Onkologi Indonesia Journal of the Indonesian Radiation Oncology Society Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol.4(1) Jan 2013:29-35 29