JURNAL PERIKANAN UNIVERSITAS GADJAH MADA ISSN: 2502-5066 (Online) ISSN: 0853-6384 (Print) Terakreditasi Ristekdikti No: 30/E/KPT/2018 © 2020 Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International license. PENDAHULUAN Ikan lele merupakan ikan ekonomis tinggi dan dibudidayakan secara luas di Indonesia. KKP (2020) menyebutkan bahwa produksi ikan lele di Indonesia pada tahun 2017 menempati urutan ketiga terbesar setelah udang dan ikan nila dengan total produksi sebesar 19.604.260 ton. Peningkatan produksi pada budidaya ikan lele membutuhkan pakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Pakan akan menghabiskan sekitar 50-60% dari total biaya produksi pada budidaya ikan intensif, sehingga penghematan dalam jumlah yang sedikit saja akan mempengaruhi keuntungan yang diperoleh para pembudidaya ikan (Nates, 2016). Bahan baku pakan ikan sebagai sumber protein seperti tepung ikan harganya semakin mahal dan ketersedianya semakin terbatas di alam (FAO, 2016). Oleh karena itu, dibutuhkan bahan baku pakan lain untuk mengurangi penggunaan tepung ikan sebagai bahan baku pakan. Sumber protein nabati telah banyak dipilih menggantikan tepung ikan karena memiiliki kandungan protein yang tinggi dan ketersedian yang melimpah di alam (Hertramp & Piedad-Pascual, 2000). Penelitian terkait penggantian sebagian atau total dari kandungan tepung ikan dengan sumber protein nabati telah diinvestigasi oleh para peneliti dan memberikan efek positif pada pertumbuhan ikan. Diantaranya adalah penggunaan tepung kedelai (Novriadi, 2017; Zhang et al., 2018; Huang et al., 2017), corn gluten meal (Gerile & Pirhonen, 2017, Nandakumar et al., 2017), canola meal (Slawski et al. 2013), protein sayuran (Tan et al., 2018) tepung bunga matahari (Ogello et al., 2017), dan tepung lupin kernel (Weiss et al., 2020), dedak dan tepung kacang (Ahmed et al., 2019), tepung daun lamtoro (Putra et al. 2019 a ) serta limbah sayuran (Putra et al., 2019 b ). TDK adalah sumber protein nabati yang memiliki potensi digunakan sebagai bahan baku pakan. Evaluasi Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) yang dihidrolisis Cairan Rumen Domba sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Lele (Clarias sp.) Evaluation of Moringa Leaves (Moringa oleifera) Meal Hydrolyzed by Sheep Rumen Liquor as Feed Ingredient For Catfsh Feed (Clarias sp.) Achmad Noerkhaerin Putra * , Irhas Malik Maula, Aryati Aryati, Mas Bayu Syamsunarno & Mustahal Mustahal Department of Fisheries, University of Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten, Indonesia * Corresponding author, email: putra.achmadnp@untirta.ac.id Submitted 01 July 2020 Revised 09 August 2020 Accepted 30 November 2020 ABSTRAK Serat kasar tinggi yang terkandung dalam tepung daun kelor (TDK) menjadi penghambat penggunaan TDK sebagai bahan baku pakan ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan TDK yang dihidrolisis dengan cairan rumen domba untuk pakan ikan lele. Uji hidrolisis pada TDK dengan menggunakan 4 dosis cairan rumen yaitu 0, 100, 125, 175 mL/kg dan lama inkubasi selama 0, 12, 24 jam, dilakukan untuk memperoleh dosis dan waktu inkubasi terbaik untuk menurunkan nilai serat kasar dalam TDK. Penelitian terdiri dari tiga pelakuan dan tiga kali ulangan, yaitu pakan referensi/acuan, pakan uji TDK tanpa hidrolis cairan rumen, dan pakan uji TDK dengan hidrolisis cairan rumen. Ikan lele dengan bobot sebesar 5,05±0,005 g dipelihara selama 45 hari dengan padat tebar 15 ekor/wadah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis rumen 175 mL/ kg dengan lama inkubasi 12 jam menghasilkan nilai serat kasar terkecil (4,33%). Pakan uji TDK dengan hidrolisis cairan rumen menghasilkan nilai kecernaan bahan baku tiga kali lipat lebih besar (50,19%) dibandingkan dengan pakan uji tanpa hidrolisis (16,90%). TDK yang dihidrolisis cairan rumen domba dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan lele karena meningkatkan kecernaan nutrien, rasio konversi pakan dan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan uji TDK tanpa hidrolisis pada pemeliharaan ikan lele. Kata kunci: Cairan rumen domba; hidrolisis enzim; ikan lele; tepung daun kelor ABSTRACT The high fber content of moringa leaves meal (MLM) is one of the limiting factors associated with its use in the manufacture of catfsh feed. This study aims to evaluate the hydrolysis of moringa leaves meal as the feed ingredient of catfsh, using sheep rumen liquor. Hydrolysis test on MLM with the different doses of sheep rumen liquor at 0, 100, 125, and 175 mL/kg as well as incubation time of 0, 12, and 24 hours, were used to obtain the best doses used in reducing the crude fber content of the leaves. The control/reference, hydrolyzed, and unhydrolyzed feed tests were used to carry out this research. Furthermore, catfsh with an initial weight of 5.05 ± 0.005 g were reared for 45 days with a density of 15 fshes per tank. The result showed that the sheep rumen liquor of 175 mL/kg and time incubation of 12 hours produces the smallest percentage of crude fber (4.33%). In addition, apparent digestibility and coeffcient of feed with hydrolyzed MLM was three times higher (50.19%) than unhydrolyzed (16.90%). Therefore, the hydrolyzed MLM can be used as raw material for catfsh feed because it produces higher nutrient digestibility, feed conversion, and growth compared to the unhydrolyzed. Keywords: Sheep rumen liquor; enzyme hydrolysis; catfsh; moringa leaves meal Vol. 22 (2), 133-140 DOI 10.22146/jfs.57468