B-500 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5 No. 2 (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) Studi Perencanaan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Sebesar 120 MW di Blok Sarulla B.H.M. Goldy Ompusunggu, Mahesa Ryan Pamuji, Gede Wibawa dan Kuswandi Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: gwibawa@chem-eng.its.ac.id Abstrak—Terus bertambahnya jumkah penduduk di Indonesia serta semakin majunya industri di Indonesia menyebabkan kebutuhan listrik Indonesia juga terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat ini pemanfaatan sumber energi selain fosil perlu dilakukan. Energi geothermal adalah salah satu energi alternatif yang ada di Indonesia. Sumber daya energi geothermal di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Geothermal power plant ini didirikan di derah Blok Sarullam Sumatera Utara pada tahun 2020. Pabrik pembangkit listrik tenaga geothermal ini menggunakan proses integrated combined cycle, yang merupakan teknologi paling mutakhir dan baik diantara semua teknologi proses pembangkit listrik tenaga geothermal. Alasan pemilihan proses ini adalah kesesuaian dari karakteristik sumur geothermal dengan syarat dari pengaplikasian proses integrated combined cycle, yaitu memiliki entalpi yang tinggi. Proses ini menggabungkan teknologi proses binary cycle dan combined cycle sehingga transfer energinya maksimal dan memiliki efisiensi energi yang besar. Selain itu, pada proses integrated combined cycle 100% dari steam yang diambil dari sumur sumber panas bumi diinjeksikan kembali ke dalam sumber panas bumi sehingga umur sumur dan reservoir panas bumi dapat berproduksi lebih lama. Pada pabrik pembangkit listrik tenaga geothermal ini digunakan 2 jenis turbin, yaitu turbin uap untuk aliran fluida geothermal dan turbin gas untuk aliran working fluid iso-pentana. Proses geothermal power plant ini akan berlangsung secara kontinyu, yaitu 24 jam/hari dan 330 hari/tahun dengan perencanaan sebagai dengan kapasitas produksi 124 MW/tahun dengan bahan Baku Feed dan Iso- Pentana sebanyak 1544832 kg/jam dan 1634544 kg/jam. Berdasarkan analisis ekonomi dengan menggunakan metode pendekatan discounted cash flow yang terdiri dari perhitungan biaya prodiksi dan aliran kas/kinerja keuangan yang telah dilakukan, menghasilkan nilai Internal Rate of Return (IRR) 13,2 %, Pay Back Period dengan 6,9 tahun dan BEP sebesar 30,9 %. Kata Kunci—Desain Pabrik, Geothermal, Sarulla. I. PENDAHULUAN ertumbukkannya lempeng India-Asutralia dan lempeng Eurasia yang memanjang di sebelah barat Pulau Sumatera memungkinkan terbentuknya lokasi- lokasi sumber panas bumi yang berkaitan dengan gunung-gunung api muda. Hal ini berarti sistem panas bumi di Pulau Sumatera umumnya lebih dikontrol oleh sistem patahan regional regional yang terkait dengan sistem sesar Sumatera. Di Provinsi Sumatera Utara sendiri, sampai sekarang telah ditemukan 2 blok panas bumi yang terletak di Sarulla dan Sibayak. Pada tahun 1993-1998, Unocal, bekerjasama dengan PT. Pertamina, melakukan eksplorasi sumber panas bumi di Blok Sarulla. Eksplorasi dilakukan dengan cara membuat 13 sumur eksplorasi dan survey geologi, geokimia, serta geofisika pada sumur-sumur tersebut. Hasil dari eksplorasi ini adalah ditemukannya 3 sumber panas bumi baru di blok Sarulla, yaitu Sibualbuali, Silangkitang, dan Namora-I-Langit, dengan potensi energi sebesar 330 Mwe untuk 30 tahun. Dengan potensi energi yang lebih besar serta karakteristik reservoir dan impurities yang lebih baik daripada Blok Sibayak, Blok Sarulla dipilih sebagai lokasi pembangunan pabrik pembangkit listrik tenaga panas bumi. Selain berdasar pada hasil pembandingan, faktor lain yang menjadi alasan pemilihan Blok Sarulla adalah 1. Ketersediaan Bahan Baku, dimana sumber panas bumi merupakan bahan baku dari pabrik pembangkit listrik tenaga geothermal. Blok Sarulla memiliki sumber panas bumi dengan rentang suhu 250- 300 0 C dan potensi energi sebesar 330 Mwe yang dapat digunakan selama 30 tahun, 2. Karakteristik Geothermal Fluids, dengan kondisi geothermal fluids di Sarulla tidak banyak mengandung H 2 S, hal ini menunjukkan bahwa resiko korosi pada fasilitas di pabrik pembangkit listrik tenaga panas bumi tidak besar dan juga steam yang digunakan aman untuk lingkungan, 3. Ketersediaan Lahan dengan luas wilayah kerja panas bumi di Blok Sarulla adalah 4,37458 km 2 , sedangkan luas dari Kabupaten Tapanuli Utara adalah 3.793,71 km 2 ; dengan perbandingan 0,0012:1. Pemerintah sudah memberikan izin penggunaan lahan dengan SK Menteri Pertambangan dan Energi No.1521.K/034/M.PE/1990. Kebutuhan listrik di Pulau Sumatera jauh lebih kecil dibandung dengan kebutuhan listrik di Jawa, dengan pangsa hanya sekitar 16% dari total kebutuhan listrik Indonesia pada tahun 2003 dan menjadi 18% pada tahun 2025. Mengingat Pulau Sumatera akan menjadi lumbung energi dan dapat dikatakan pemakaian listrik di pulau ini masih tergolong rendah menyebabkan peningkatan kebutuhan listrik di pulai ini diasumsikan lebih tinggi disbanding Jawa-Madura-Bali, yaitu sebesar 8.6% per tahun, dari 21.14 TWh pada tahun 2003 menjadi 128.91 TWh pada tahun 2025. Peningkatan pertumbuhan ebutuhan listrik 8.6% pada tahun tersebut juga dipacu oleh membaiknya perekonomian di Sumatera dan adanya program peningkatan rasio elektrifikasi di Sumatera. B