41 Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XVIII/Mei 2014 PEMIMPIN VISIONER PADA INTITUSI PENDIDIKAN Sapto Nugroho Guru SMA Negeri 5 Yogyakarta Abstrak Pemimpin yang memiliki kegesitan, kecepatan serta mampu beradaptasi dalam membawa jalannya organisasi memiliki peran yang penting dalam menghadapi kondisi organisasi yang senantiasa mengalami perubahan. Sebab, feksibilitas organisasi pada dasarnya merupakan karya orang-orang yang mampu bertindak proaktif, kreatif, inovatif dan non konvensional. Pribadi-pribadi seperti inilah yang dibutuhkan sebagai pemimpin organisasi pendidikan saat ini. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas ke arah mana organisasi akan di bawa. Pendahuluan Terra incognita, demikian Alvin Tof- fer melukiskan milenium ketiga sebagai era yang tak kenal bentangan masa dan yang tak terpetakan. Perspektif Newto- nian mengenai perubahan yang linier dan dapat diramalkan telah usang, digantikan teori kekacauan (chaos theory). Menurut teori ini kehidupan merupakan pertemuan di mana satu peristiwa dapat mengubah peristiwa-peristiwa lain secara tak terduga, bahkan dapat menghancurkan. Perubahan terjadi secara tidak linier, diskontinu dan tak dapat diramalkan. Kehidupan bukanlah rangkaian peristiwa yang saling terkait dan susul-menyusul. Gejolak perubahan yang berlangsung secara cepat mengakibatkan kesementaraan menjadi sifat hakiki dari kegiatan usaha di masa depan. Kegiatan bisnis maupun pen- didikan menghadapi berbagai kondisi para- doksial yang penuh ketidakpastian. Organi- sasi-organisasi di seluruh dunia dirongrong oleh faktor-faktor eksternal yang memaksa mereka untuk berubah secara drastis. Dalam bukunya : “The New Rules: How to Succeed in Today’s Post-Corporate World”, John P. Kotter (Tommy Sudjarwadi, 2003) menye- but empat penyebab utama yang memaksa organisasi untuk berubah. Keempat faktor tersebut adalah: perubahan teknologi, in- tegrasi ekonomi internasional, kejenuhan pasar di negara-negara maju. Inisiatif untuk melakukan perubahan dengan berbagai upaya sistematik, banyak dilakukan organisasi pendidikan. Hasil dari upaya-upaya ini banyak yang berhasil, namun banyak pula yang gagal. Ada dela- pan kesalahan yang sering dilakukan yang menyebabkan dunia pendidikan mengalami kegagalan dalam melakukan perubahan besar yang diharapkan. Hal-hal tersebut menurut John P. Kotter (1996) dalam bu- kunya : “Leading Change” adalah sebagai berikut. 1. Membiarkan rasa puas diri yang ber- lebihan. pemimpin membiarkan para guru/karyawan berada dalam zona nya- man terus menerus. 2. Gagal membentuk tim pengarah peru- bahan yang kuat. Perubahan didelegasi- kan terlalu jauh. 3. Menganggap remeh kekuatan suatu visi. sekolah tidak percaya kekuatan suatu visi, sehingga tidak cukup meluangkan waktu untuk membuat visi yang jelas. Visi hanya dianggap sekedar suatu pernyataan. Sekedar formalitas.