165 Pabendon et al.: Pemuliaan Gandum Berbasis Marka Molekuler Pemuliaan Gandum Berbasis Marka Molekuler Marcia B. Pabendon 1 , Sri Sunarti 1 , dan R. Heru Praptana 2 1 Balai Penelitian Tanaman Serealia 2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan PENDAHULUAN Gandum merupakan komoditas pangan penting dunia dengan produksi 624 juta ton pada tahun 2005 (FAO 2006). Komoditas ini adalah sumber utama karbohidrat sehingga penelitian peningkatan produksi gandum diupayakan melalui teknik bioteknologi. Ke depan, permintaan sereal diperkirakan tumbuh sebesar 50% seiring dengan meningkatnya kebutuhan (Reynolds and Borlaug 2006). Di Eropa, sejak tahun 1950-an, hasil panen gandum meningkat rata-rata 0,1 t/ha, yang merupakan dampak dari perbaikan teknologi budi daya maupun perakitan dan pengembangan varietas baru. Genetika gandum lebih rumit dibandingkan dengan sebagian besar spesies domestikasi lainnya karena tergolong allopolyploid, mengandung tiga genom tetua yang berbeda (kode A, B dan D), masing-masing berisi tujuh pasang kromosom homolog (Kumar and Singh 2010, Hussain et al. 2010). Oleh karena itu jumlah kromosom dalam genom diploid (2n) adalah 42, atau juga disebut sebagai 6x, karena masing-masing genom tetua memiliki tujuh kromosom. Beberapa spesies gandum diploid, seperti T. monococcum, mempunyai dua set kromosom, namun banyak juga yang polyploids stabil dengan empat set kromosom atau tetraploid, misalnya gandum durum dengan enam set kromosom (hexaploid). Dalam program pemuliaan gandum secara konvensional, ratusan ribu galur dibutuhkan untuk menghasilkan varietas baru setiap beberapa tahun. Biaya yang mahal adalah pada uji multilokasi dan evaluasi untuk beberapa sifat, terutama kualitas hasil biji dan stabilitas hasil. Bioteknologi diharapkan dapat memainkan peranan utama dalam meningkatkan produktivitas gandum dengan meningkatkan toleransi atau ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nitrogen, serta menyediakan varietas spesifik untuk industri hilir. Indonesia bukan penghasil gandum sehingga ketergantungan terhadap tepung terigu cukup tinggi yang membutuhkan devisa yang cukup besar. Salah satu upaya untuk mengembangkan gandum di Indonesia yang beriklim tropis adalah merakit varietas toleran suhu tinggi. Pengembangan tanaman gandum di Indonesia relatif lambat karena selain bersaing dengan tanaman pangan utama seperti padi, jagung, kedelai, kondisi lingkungan tropis khususnya suhu tinggi kurang mendukung pertumbuhan dan produksi gandum. Varietas gandum dari daerah subtropis pada umumnya tidak dapat berproduksi dengan baik di Indonesia. Kalau pun dapat tumbuh dan berproduksi, tanaman gandum