PSYMPATHIC : Jurnal Ilmiah Psikologi eISSN: 2502-2903, pISSN: 2356-3591 Volume 8, Nomor 2, 2021: 271-284 DOI: 10.15575/psy.v8i2.15054 271 Pendahuluan Kesejahteraan (well-being) telah menjadi konsep penting dalam dunia kerja karena kesejahteraan adalah ukuran tentang pikiran dan perasaan atau emosi positif dan tentunya juga penting bagi ketahanan dan perkembangan organisasi (Seligman, 2011; Spreitzer & Porath, 2012). Kesejahteraan sendiri bukanlah sesuatu yang hanya ada dalam pikiran individu, melainkan kombinasi dari perasaan baik tentang diri sendiri dan memiliki makna dalam hidup, serta pencapaian dan hubungan baik dengan orang lain. Tingkat kesejahteraan tinggi yang disebut sebagai flourishing, merupakan kombinasi dari perasaan yang menyenangkan (good feeling) dengan fungsi yang baik (well-functioning) secara sosial dan psikis (Seligman, 2011). Kesejahteraan karyawan dalam sebuah organisasi dianggap penting karena tidak hanya berdampak secara individual saja namun memberikan dampak keseluruhan pada organisasi, sebagaimana pernyataan Wright (2017, h. 419) “Kesejahteraan karyawan merupakan faktor yang membantu dalam memahami karyawan maupun organisasi, seperti kepuasan kerja ataupun keputusan retensi karyawan”. Hal ini didukung hasil penelitian Robertson dan Cooper (2011) yang menjelaskan bahwa karyawan yang sejahtera dapat memberikan Peran Komitmen Organisasi terhadap Kesejahteraan Karyawan Perguruan Tinggi Islam di Bandung Eneng Nurlaili Wangi 1* , Irfan Fahmi 2 , Siti Mutya Lutfiani 3 1,3 Program Studi Psikologi, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116, Indonesia 2 Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia *e-mail: nurlailiyunar@gmail.com Abstract This studi aims to examine the effect of organizational commitment on employees' well-being. This causality research involvig 721 respondents recruited using simple random sampling. Organizational commitment was measured using Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) based on the concept from Meyer and Allen, while well-being was measured using instrument developed by Butler and Kern. The results show that affective and normative organizational commitment did not affected well-being, while continuance organizational commitment has a significant effect on well-being. Employees with affective-based organizational commitment show different behavior compared to continuance- and normative-based. This commitment made the employees choose to continue the job by considering how comfortable they work, which is related to their well-being. Keywords: organizational commitment, well-being, employee, Islamic higher education Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh komitmen organisasi pada kesejahteraan karyawan. Penelitian kausalitas ini melibatkan sampel sebanyak 721 responden dengan menggunakan simple random sampling. Komitmen organisasi diukur menggunakan Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) berdasarkan konsep Meyer dan Allen, sedangkan kesejahteraan menggunakan alat ukur yang dikembangkan Butler dan Kern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa affective organizational commitment dan normative organizational commitment tidak memberikan pengaruh terhadap kesejahteraan, sedangkan continuance organizational commitment berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan. Karyawan yang memiliki komitmen organisasi dengan dasar afektif memiliki tingkah laku berbeda dengan karyawan yang berdasarkan pada continuance dan normative. Komitmen tersebut membuat karyawan memilih melanjutkan pekerjaan dengan mempertimbangkan sejauhmana merasakan kenyamanan pada Perguruan Tinggi Islam tersebut, hal ini tidak dapat terlepas dari masalah kesejahteraan karyawan itu sendiri. Kata Kunci: komitmen organisasi, kesejahteraan, karyawan, Perguruan Tinggi Islam