Jurnal Sosial Budaya, Vol. 8 No. 01 Januari – Juni 2011 Pendidikan Moral Dalam………..Zuairansyah 132 PENDIDIKAN MORAL DALAM MULTI PERSPEKTIF Oleh : Zuhairansyah Arifin Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau e-mail : zuhairansyah_arifin@yahoo.com Abstract : Education and moral are two words not be separated. We can say that education is speak about morality, but in the other side, the good moral must be resulted by education. Philosophy of moral can to appear with human life to choose much of methods to formulation the good morality in life. It implication developed by realizing the good methods around teacher, lectures, and students. At last, developing of values can to arising plurality of moral. The plurality can to arise behavior where in one of man, morality is good, but in othe men morality is not good. But we can say, that moral values are absolutely, it mean; the morality certainly have the permanent character. But in other men that moral values are relatively, can be grow different/inconstant. Those different, especially for human life that have religious/moslem, must be attitude with intellect or prudent by values of al-Qur’an. Key Words : pendidikan, moral, implikasi, nilai A. Pendidikan dan Moral Dalam bahasa Inggris, pendidikan disebut education yang berasal dari kata educate atau mendidik yang artinya perbuatan atau proses untuk memperoleh pengetahuan. Dalam pengertian luas education merupakan proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. 1 Jamil Shaliba dalam Mu’jam al-Falsafî mengemukakan bahwa pendidikan (Arab, al- tarbiyah. Prancis, education. Inggris, education, culture. Latin, educatio) ialah pengembangan fungsi-fungsi psikis melalui latihan sehingga mencapai kesempurnaan sedikit demi sedikit. 2 John S. Brubacher mengemukakan, pendidikan adalah proses timbal balik dari setiap individu dengan individu lain dalam rangka penyesuaian dirinya dengan alam semesta. Pendidikan juga merupakan perkembangan kemampuan manusia yang terorganisasi dari semua potensinya, baik menyangkut moral, intelektual dan jasmani, yang diharapkan mampu menghimpun suatu aktivitas menuju kehidupan akhir. 3 William Mc Gucken, seorang tokoh pendidik Katolik, sebagaimana dikutip oleh M. Arifin, memberikan defenisi pendidikan “sebagai perkembangan dan kelengkapan dari kemampuan-kemampuan manusia baik moral, intelektual maupun jasmaniah yang diorganisasikan, dengan atau untuk kepentingan individual atau sosial dan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersatu dengan penciptanya sebagai tujuan akhirnya”. 4 Dalam arah yang senada, Van Cleve Morris menyatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya bukan alat sosial semata untuk mengalihkan cara hidup secara