53 TEPUNG KELAPA SEBAGAI DESINTEGRATOR DALAM FORMULASI TABLET Yos Banne 1) , Donald E. Kalonio 2) , Elvie R. Rindengan 3) 1), 2), 3), Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado, Jl. RW. Mongisidi Malalayang II Manado Abstract: North Sulawesi known as coconut producer in Indonesia and almost all of the parts of this plant were usefull. Coconut flour is a product derived from the processing of coconut pulp. Fiber (cellulose) content in coconut flour is higher than other flour which is about 60,9 %. The aim of this research was to review the potential use of coconut flour as desintegrator in tablet formulations. This research is applied research with lab-scale experimental methods carried out in the laboratory of Pharmaceutical/Pharmaceutical Technology Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado. The research done by making 2 tablet formulation using coconut flour and amylum manihot as desintegrator. The resulting tablets were evaluated to test disintegration time, hardness, friability and uniformity of weight and size. The data obtained compared to the requirements of each test. The results showed that the tablets that use coconut flour as tablet disintegrator eligible to disintegration time and friability, but does not meet the requirements of uniformity of weight and size and tablet hardness. Keywords: Coconut flour , Desintegrator , Tablet . Tepung kelapa atau coconut flour diperoleh dari hasil pengolahan ampas kelapa dan dapat digunakan sebagai bahan baku pada industri makanan dalam produk roti, kue dan permen sebagai pengisi (Kailaku dkk, 2005). Tepung kelapa memiliki kelebihan antara lain mengandung protein cukup tinggi, bebas gluten, memiliki kandungan karbohidrat digestible yang rendah dan kandungan serat (selulosa) yang lebih tinggi dibanding jenis tepung lainnya yaitu sekitar 60,9%. Dari total kandungan serat tersebut, 56% berupa serat tidak larut air dan 4% serat larut air (Anonim, 2001; Anonim, 2005). Salah satu manfaat tepung kelapa dalam bidang farmasi yaitu sebagai disintegrator untuk sediaan obat berupa tablet karena kandungan seratnya yang tinggi. Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan obat yang paling umum digunakan. Formulasi suatu tablet selain mengandung zat aktif obat, juga mengandung zat tambahan (excipient) berupa pengisi (filler), pengikat (binder), penghancur (desintegrator), pelincir (glidan dan antiadherent) serta pewarna dan pemanis bila diperlukan (Lachman dkk, 1994). Bahan penghancur digunakan untuk memudahkan pecah atau hancurnya tablet saat berkontak dengan cairan dalam saluran cerna, biasanya digunakan bahan yang mengandung serat/selulosa yang akan mengembang dalam air sehingga memudahkan pecahnya tablet (Ansel, 1989). Tepung kelapa dengan kandungan serat yang tinggi memiliki potensi untuk digunakan sebagai desintegrator pada formulasi tablet. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pemanfaatan tepung kelapa produksi Sulawesi Utara sebagai desintegrator dalam formulasi tablet. METODE Penelitian ini adalah penelitian terapan dengan metode eksperimen skala laboratorium. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Farmasetika/Teknologi Farmasi Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado.