KOMPARASI PSIKOLOGI AGAMA BARAT DENGAN PSIKOLOGI ISL AMI (MENUJU REKONSTRUKSI PSIKOLOGI ISLAMI) Zubaedi Fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Selebar Bengkulu Email: Zubaedi1969@gmail.com Abstrak: This article discusses the comparison between the psychology of religion that comes from tradition West with Islamic Psychology unearthed from the Quran and Hadith. The study assumes that epistemologically, the two poles of this psychology have differing views on the potential of human religiosity, but in parts of certain thoughts can can be connected. There are two issues can connect both buildings psychology. Psychology of religion although not explicitly alluded to religion, but the descriptions of the appreciation of the spiritual aspects of humans simply can not be avoided. Some defecate great Western psychologist who confirmed the existence of the religious instinct. Vary the terms they use, but the substantial question is a form of encouragement that causes humans tend to acknowledge the existence of a supernatural agent (supernatural). In this context, the psychology of religion (West) as an inspiration and a knife in the analysis discusses the psychological problems of the people. Keywords: Abstrak: Artikel ini membahas perbandingan antara psikologi agama yang bersumber dari tradisi Barat dengan Psikologi Islami yang digali dari al-Qur’an dan Hadis. Kajian berangkat dari asumsi bahwa secara epistemologis, dua kutub psikologi ini memiliki perbedaan pandangan tentang potensi keberagamaan manusia, namun pada bagian-bagian pemikiran tertentu dapat dihubungkan. Ada dua isu dapat menghubungkan kedua bangunan psikologi ini. Psikologi agama meskipun tidak secara tegas menyinggung agama, namun gambaran terhadap adanya penghayatan terhadap aspek-aspek spiritual manusia sama sekali tidak dapat dihindari. Sebagian besar psikolog Barat yang membenarkan eksistensi naluri keagamaan. Beragam istilah mereka pergunakan namun secara substansiil yang dimaksud adalah berupa dorongan yang menyebabkan manusia cenderung untuk mengakui adanya suatu zat yang adikodrati (supernatural). Dalam konteks ini, psikologi agama (Barat) sebagai inspirasi dan pisau analisis dalam membahas persoalan psikologis umat. Kata kunci: Pendahuluan Psikologi agamabersumber dari Barat adalah ilmu jiwa atau psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap, tingkah laku dan keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama mempelajari pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut. Diantara pelopor kelahiran psikokogi agama adalah R.H. Thouless, Rudolf Otto, Sigmund Freud dan lain-lainnya. 1 1 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, Cet. IV, 1976., hal. 2. Diakui, Barat telah melahirkan paradigma dalam melakukan studi terhadap perkembangan jiwa keagamaan manusia sesuai dengan aliran- aliran psikologi yang ada. Paradigma tersebut antara lain: Wilhem Wundt, tokoh psikologi Strukturalisme memakai paradigma kesadaran; Sigmund Freud; tokoh Psikoanalisa menggunakan paradigma ”ketaksadaran; J. B. Watson, tokoh Behaviorisme menggunakan paradigma objektif; dan Abraham Maslow, tokoh psikologi Humanistik menggunakan paradigma ”humanistik” atau ”kemanusiaan”. Paradigma psikologi dari Barat ini memiliki corak objektivitas dan rasionalitas. Suatu studi dikatakan ilmiah apabila memiliki sifat objektif dan rasional. Rasionalitas dan objektivitas NUANSA Vol. VIII, No. 1, Juni 2015 81