| 1 JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT SASAMBO http://jkp.poltekkes-mataram.ac.id/index.php/PKS/index Faktor Risiko Pendek Gemuk Pada Anak Usia 12-23 Bulan di Indonesia Imtihanatun Najahah 1 , Linda Meliati 2 , Mutiara Rahmawati Suseno 3 Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Mataram, Indonesia Genesis Naskah: Abstrak Indonesia mempunyai beban ganda atau double burden yaitu selain menghadapi masalah gizi kurang dan defisiensi gizi mikro lainnya Indonesia juga mulai menghadapi masalah kegemukan. Prevalensi balita pendek gemuk di Indonesia sebesar 6,8% pada tahun 2013. Berdasarkan hal ini perlu dikaji faktor risiko pendek gemuk pada anak usia 12-23 bulan di Indonesia. Disain penelitian adalah cross sectional, dengan besar sampel 378308 anak usia 12-23 bulan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah anak pendek gemuk dan variabel bebas adalah ASI eksklusif, pemberian MPASI, pelayanan kunjungan neonatal, pelayanan imunisasi dan pemberian vitamin A. Data diperoleh dari data riskesdas 2013. Selanjutnya analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat, bivariat (chi-square) dan multivariat (regresi logistik). Sampel penelitian sebagian besar berjenis kelamin laki-laki 204030 (53,9%) dengan status gizi berdasarkan gabungan TB/U dan BB/TB tidak pendek gemuk 352450 (93,2%). Hasil uji bivariat ada empat variabel yang merupakan faktor risiko yaitu ASI tidak eksklusif OR=1,047, pemberian MPASI OR=1,136, pelayanan imunisasi OR=0,761 dan pemberian vitamin A OR=0,601, sedangkan variabel pelayanan kunjungan neonatal tidak terbukti sebagai fakor risiko. Pada analisis multivariat didapat variabel yang paling dominan berperan meningkatkan faktor risiko adalah pemberian MPASI OR 1,158 (CI 95% 1,127-1,189). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan pemberian MPASI yang paling berperan terhadap pendek gemuk pada anak usia 12-23 bulan. Perlu dilakukan upaya pencegahan melalui pemantauan status gizi anak terutama pemantauan pertumbuhan panjang badan atau tinggi badan berdasarkan umur dilakukan sedini mungkin untuk deteksi dini adanya masalah gizi pada anak sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan secara cepat untuk mencegah kasus pendek gemuk. . Kata kunci : Anak usia 12-23 bulan, pendek gemuk, faktor risiko RISK FACTORS FOR COMBINATION STUNTING WITH OBESE STATUS NUTRITION IN CHILDREN AGED 12-23 MONTHS IN INDONESIA ABSTRACT Indonesia has a double burden,that is in addition to facing the problem of malnutrition and another micronutrient deficiencies, Indonesia also began to face the problem of obesity . Prevalence of combination stunting with obese status nutrition in Indonesia amounted to 6.8 % in 2013. Based on this, it is need to be assessed the risk factors of combination stunting with obese status nutrition in children aged 12-23 months in Indonesia . Design of this study was cross-sectional , with a sample size of 378 308 children aged 12-23 months . The dependent variable in this study is combination stunting with obese status nutrition and the independent variables are exclusively breastfed , giving solid foods , neonatal care visit , immunization and Vitamin A supplementation. The data obtained from the Riskesdas data 2013. Further analysis of the data is done in several steps, include univariate, bivariate ( chi -Square ) and multivariate ( logistic regression ) . Sample of this study are mostly male 204030 ( 53.9 % ) with the nutritional status based on the combined height/age and weight/height is not a combination stunting with obese status nutrition 352450 ( 93.2 % ). Based on bivariate test results , there are four variables that are to be the risk factors in this study, are not exclusive breastfeeding OR = 1.047 , giving solid foods OR = 1.136 , immunization OR = 0.761 , and vitamin A consumption OR = 0.601. While the neonatal care visits variable is not proven as the risk factor . Multivariate