Keragaman Genetik Ikan Uceng ( Nemacheilus) di Sungai Wilayah Banyumas Berdasar
Sekuen Gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI)
ABSTRAK Ikan uceng (Nemacheilus) merupakan ikan endemik yang hidup di perairan sungai wilayah Banyumas.
Penangkapan berlebih serta perubahan kualitas lingkungan menyebabkan penurunan populasinya di alam.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi spesies Nemacheilus yang hidup di perairan sungai Banyumas serta
melihat keragaman genetiknya. Cytochrome oxidase subunit I (COI) digunakan sebagai marka molekuler, dimana
telah terbukti sebagai penanda (barcode) yang universal dan stabil. Ada bagian dari COI yang bersifat variabel
sehingga bagus apabila digunakan melihat keragaman genetik. Hasil BLAST menyatakan bahwa sampel keempat stasiun
memiliki nilai per indent 99,54-100% dengan spesies Neimacheilus chrysolaimos. Nilai keragaman haplotype (Hd)
0,679, dan nilai keragaman nukleotida 0,00117. Berdasarkan hal tersebut, keragaman haplotype ikan uceng dikategorikan
pada tingkat sedang, sedangkan keragaman nukleotida pada tingkat rendah.
Kata kunci: Nemacheilus; COI; keragaman genetik
ABSTRACT Stone loaches (Nemacheilus) are one of the endemic fsh in the river of the Banyumas Area. Overfshing
and changing the quality of the environment lead to population decline. Tis study aims to identify Nemacheilus species
that lived in the river of the Banyumas area and fnd out genetic diversity. Cytochrome oxidase subunit I (COI) was
used as a molecular marker since it was proven to be stable and good as a universal barcode to study genetic diversity.
Based on BLAST, samples had 99.54-100% per indent with Nemacheilus chrysolaimos. On the other hand, calculation
on haplotype diversity (Hd) and nucleotide diversity showed 0.079 and 0.00117 respectively. Based on that reference,
haplotype diversity (Hd) of stone loaches were categorized as medium, while nucleotide diversity categorized as low.
Keywords: Neimacheilus; COI; genetic diversity
PENDAHULUAN
Ikan uceng (Nemacheilus), hidup di perairan tawar, sungai
jernih dengan dasar berbatu. Persebaran Nemacheilus
di Indonesia meliputi pulau Sumatra, Jawa (Fishbase,
2017) Kalimantan ( Kottelat, 1993). Di Jawa tengah
Nemacheilus banyak ditemuai di Temaggung, Yogyakarta
dan Banyumas. Sungai Pelus, Sungai Mengaji, Sungai
Banjaran, Sungai Kranji merupakan beberapa sungai
di wilayah Banyumas yang menjadi habitat ikan Nemacheilus .
Keempat sungai tersebut memiliki kontur landai dengan
dasar berbatu sehingga cocok sebagai habitat ikan uceng.
Oleh masyarakat sekitar, ikan ini biasa ditangkap untuk
dijadikan bahan makanan maupun untuk komoditi ikan
hias. Penangkapan yang tinggi menyebabkan penurunan
populasi, sehingga perlu adanya upaya pelestarian untuk
menjaga keberlangsungan hidup Nemacheilus dan
memenuhi aspek ekonominya.
Informasi mengenai jenis spesies Nemacheilus di perairan
sungai Banyumas belum diketahui, dan antar spesies
memiliki ciri morfologi yang mirip, sehingga identifkasi
dengan metode DNA Barcoding dinilai memiliki akurasi yang
tinggi dan lebih efektif. Selain identi fkasi, data keragaman
genetik diperlukan sebagai langkah awal upaya pelestarian
populasinya di alam. Keragaman genetik dapat digunakan
untuk menduga ukuran serta kemampuan populasi dalam
beradaptasi. Semakin tinggi keragaman genetiknya maka
ukuran populasi semakin besar, dan kemampuan adaptasi
spesies dalam populasi tersebut semakin baik suatu
populasi dengan genetik yang lebih beragam, lebih tahan
terhadap gangguan seperti kondisi lingkungan ekstrim
( Ketchum et al ., 2016). Pada upaya konservasi dan selektive
breeding, induk potensial adalah yang memiliki keragaman
genetik tinggi (Ukenye et al., 2019). Salah satu marka
molekuler yang sering digunakan untuk identifkasi spesies
dan melihat nilai keragaman genetik adalah gen Cytochrome
oxidase subunit I (COI). COI yang merupakan mtDNA
adalah gen penyandi protein dan memiliki peran dalam
respirasi sel. COI dianggap memenuhi persyaratan untuk
digunakan dalam menentukan identitas spesies pada
hampir semua binatang tingkat tinggi. (Hubert et al .,
2003) menyatakan bahwa fragmen COI pada intraspesi fk
memiliki diversitas tidak lebih dari 2%, sedangkan diversitas
akan meningkat dengan jauhnya genus maupun flum
antar spesies. Berdasar pada hal tersebut COI digunakan
sebagai marker untuk studi flogenetika serta identifkasi
spesies, keunggulan lainnya adalah tidak adanya intron
serta jumlah salinan yang tinggi (100-10000 salinan gen).
Identifkasi spesies menggunakan COI banyak dilakukan
Genetic Diversity of Stone loaches (Nemacheilus) in River of Banyumas Area based
on Cytochrome Oxidase Subunit I (COI)
Rima Oktavia Kusuma*, Muhammad Sulaiman Dadiono, Baruna Kusuma & Hamdan Syakuri
Program Studi Akualkultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jendral Soedirman,
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
*Penulis korespondensi, email: rimaoktavia@unsoed.ac.id
Tanggal Submisi: 09 November 2020; Tanggal Revisi: 16 June 2021; Tanggal Penerimaan: 07 September 2021
ISSN: 2502-5066 (Online)
ISSN: 0853-6384 (Print)
JURNAL PERIKANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Terakreditasi Ristekdikti No: 158/E/KPT/2021
©2021 Jurnal Universitas Gadjah Mada. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International license.
Vol. 23 (2), 89-94
DOI 10.22146/jfs.61167