Volume 1, Nomor 1 Januari-Maret 2021 14 journal.uinsgd.ac.id/index.php/jis/index.in© Nuraini et al. Women Issues Discussed by Feminist Muffasirs in Indonesia Nabilah Nuraini UIN Sunan Gunung Djati Bandung nabilahnuraini21@gmail.com Nana Najatul Huda UIN Sunan Gunung Djati Bandung najahelhuda22@gmail.com Eni Zulaiha UIN Sunan Gunung Djati Bandung enizulaiha@uinsgd.ac.id Suggested Citation: Nuraini, Nabilah; Huda, Nana Najatul; Zulaiha, Eni. (2021). History of Feminist Muffasirs in Indonesia. Jurnal Iman dan Spiritualitas, Volume 1, Nomor 1. pp.14-19. https://doi.org /10.15575/jis.v1i1.11414 Article’s History: Received February 2021; Revised February 2021; Accepted February 2021. 2020. journal.uinsgd.ac.id ã. All rights reserved. Abstrak: Ide feminisme di Indonesia berawal pada masa penjajahan Belanda pada akhir abad ke-19. Kami melihat banyak wanita muda dalam perjuangan melawan penjajah. Selain Ide Feminisme, pada masa Orde Lama muncul gerakan feminisme Indonesia yang bernama Gerwani (Gerakan Perempuan Indonesia) yang didirikan pada tahun 1950-an. Gerakan Feminisme di Indonesia beroperasi dalam beberapa cara. Seperti organisasi, lembaga, tulisan, seminar, dan berbagai gerakan. Awal penafsiran feminis di Indonesia muncul setelah kemerdekaan Indonesia dan pendidikan dan sastra Islam di Indonesia. Pada masa Orde Lama, sarana pendidikan dan sastra Islam mulai dilembagakan, seperti munculnya PTAIN dan UII. Di Indonesia, perkembangan tafsir perempuan yang muncul sekitar tahun 1960-an ketika Buya Hamka menulis Tafsir Al-Azhar dan mulai berkembang pesat pada tahun 90-an dengan munculnya beberapa tulisan Quraisy-Shihab, yang kemudian oleh beberapa tesis dan disertasi di kalangan intelektual muslim Indonesia, yang membahas tentang konsep Alquran. Beberapa feminis mufters di Indonesia, antara lain: Buya Hamka, Quraish Shihab, Husein Muhammad, Mansour Faqih, dan tokoh Mufassir feminis lainnya. Kata Kunci: Feminisme; Muslim Indonesia; Tafsir Al-Qur'an Abstract: The idea of feminism in Indonesia originated in the Dutch colonial period at the end of the 19th century. We saw lots of young women in the struggle against the colonialists. Besides the Idea of Feminism, a movement of Indonesian feminism emerged during the Old Order era named Gerwani (Indonesian Women's Movement), which was founded in the 1950s. The Feminism Movement in Indonesia operates in several ways. Such as organizations, institutions, writings, seminars, and various movements. The beginning of feminist interpretation in Indonesia emerged after Indonesian independence and Islamic education and literature in Indonesia. During the Old Order era, educational facilities and Islamic literature began to be institutionalized, such as the emergence of the State’s Islamic Higher Education (PTAIN) and Islamic University of Indonesia (UII). In Indonesia, the development stage of women ' s interpretation which emerged around the 1960s when Buya Hamka wrote Tafsir Al-Azhar and began to develop rapidly in the1990s with the emergence of several writings by Quraish-Shihab, which were then by several theses and dissertations among Indonesian Muslim intellectuals, which discussed the concepts of the Qur'an. Several feminist mufters in Indonesia, including: Buya Hamka, Quraish Shihab, Husein Muhammad, Mansour Faqih, and other feminist Mufassir figures. Keywords: Feminism; Indonesian Muslim; Qur’anic Exegesis