BioSMART ISSN: 1411-321X
Volume 4, Nomor 2 Oktober 2002
Halaman: 55-59
© 2002 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Eksplorasi dan Inventarisasi Anggrek di Kawasan Kebun Raya Bukit Sari, Jambi
Exploration and inventarisation of orchids in Bukit Sari Botanic Garden, Jambi
DWI MURTI PUSPITANINGTYAS
Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – LIPI, Bogor 16002.
Diterima: 10 Mei 2002; Disetujui 31 Juli 2002
ABSTRACT
Bukit Sari Botanic Garden is located in Jambi Province of Sumatra. It covers a 300 hectare area of lowland forest. The garden will play
an important role in the future because the outer area of Bukit Sari Botanic Garden will be opened for palm oil plantation. Orchid
inventory and exploration were conducted to study orchid diversity in the garden and the surrounding areas. Observation on the
population of terrestrial orchid was also done to study the dominant terrestrial orchid in that area. It was recorded that there were 26
orchid species belonging to 20 genera, 15 species of which were epiphytes and 11 other species were terrestrial orchids. The most
dominant terrestrial orchid was Plocoglottis javanica, while Tropidia curculigoides, Neuwiedia veratrifolia and Claderia viridiflora
were very commonly found. Some epiphyte orchids such as Coelogyne foerstermannii, Dendrobium leonis, Bulbophyllum patens,
Dendrobium lamellatum and Dendrobium aloifolium were found more frequently than the others.
Key words: orchids, Bukit Sari Botanic Garden, Jambi.
PENDAHULUAN
Pada tanggal 27 Februari 1998 areal hutan Bukit Sari
yang terletak di Sengkati, Kabupaten Batanghari dan
Bungatebo diubah namanya menjadi Kebun Raya Bukit
Sari, berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan dan
Perkebunan No. 301/Kpts-II/1998. Kawasan ini berlokasi
di pinggir jalan raya Jambi-Muarabungo, dengan luas 300
ha. Wilayah yang termasuk Kabupaten Batanghari seluas
220 ha (73,33%), sedang Kabupaten Bungotebo seluas 80
ha (26,67%). Kebun Raya Bukit Sari terletak pada
ketinggian 50-75 m dpl, dengan topografi bergelombang
dan berbukit-bukit terjal. Jenis tanah didominasi oleh tanah
podsolik merah-kuning (insitisol dan ulsitol). Suhu udara
berkisar antara 20-33,6°C dengan curah hujan rata-rata
dalam satu tahun sekitar 93 hari atau 1606,5 mm (Soewilo,
1999).
Di sekitar Kebun Raya Bukit Sari, Jambi masih terdapat
areal hutan rakyat yang akan dijadikan perkebunan, berupa
hutan sekunder dengan jenis flora yang heterogen.
Topografi hutan ini bergelombang terdiri dari bukit-bukit
kecil, terletak di dataran rendah dengan ketinggian antara
90-100 m dpl. Suhu udara relatif normal yaitu sekitar 28-
30°C dan kelembaban udara cukup kering yaitu 50-60%.
Jenis tanah berupa lempung liat dan warna agak kemerah-
merahan, bila basah karena hujan tanah menjadi lengket
dan liat. Kemasaman tanah relatif netral dengan pH sekitar
5-6. Duhulu kawasan ini merupakan daerah penebangan
dengan hasil kayu cukup banyak, tetapi sekarang kawasan
ini hendak dialihkan fungsinya menjadi hutan tanaman
industri kelapa sawit. Sistem pengelolaannya diserahkan
kepada rakyat sekitar, dimana setiap kepala keluarga
mendaparkan 2 ha. Pada saat ini program pengalihfungsian
kawasan tersebut menjadi areal perkebunan belum tereali-
sasi, sehingga rakyat memanfaatkan kayu-kayu yang cukup
besar untuk ditebang. Jenis kayu yang banyak ditebang
pada saat ini umumnya merupakan kayu berkualitas
rendah, yaitu kayu kompas (Koompasia excelsa dan K.
malaccensis), sedangkan jenis-jenis kayu Dipterocarpaceae
yang berkualitas tinggi sudah habis ditebang.
Sehubungan dengan adanya pengalihfungsian hutan
alami menjadi areal perkebunan tersebut, dikhawatirkan
sumber plasma nutfah di kawasan ini akan punah, termasuk
keragaman anggreknya. Untuk itu perlu segera diupayakan
konservasi flora, termasuk jenis-jenis anggrek dari kawasan
tersebut ke dalam Kebun Raya Bukit Sari. Tahap awal yang
sudah dilakukan yaitu inventarisasi keragaman anggrek
yang tumbuh di dalam dan di sekitar Kebun Raya Bukit
Sari.
BAHAN DAN METODE
Inventarisasi dilakukan melalui eksplorasi di dalam dan
di luar (di sekitar) Kebun Raya Bukit Sari, Jambi. Jenis-
jenis anggrek yang ditemui diambil sampelnya untuk
dikonservasikan secara ex situ di Kebun Raya Bogor dan
Kebun Raya Bukit Sari, sebagai koleksi hidup. Di samping
itu dibuat pula spesimen herbarium basahnya.
Identifikasi tingkat marga dilakukan melalui pengama-
tan morfologi perawakan, sedangkan untuk mengidentifi-
kasi sampai tingkat jenis dilakukan pengamatan morfologi
bunga. Identifikasi dilakukan melalui penelusuran pustaka
dan dideterminasi dengan mencocokkan spesimen herba-