Prosiding Seminar Nasional Pertanian Peternakan Terpadu Ke-3 ISBN : 978-602-60782-2-3 [610] PERSEPSI RESPONDEN TERHADAP ALPUKAT KALIBENING DI KABUPATEN SEMARANG Komalawati, Intan Gilang Cempaka dan Afrizal Malik BPTP Jawa Tengah, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian e-mail: lalabptpjtg@gmail.com; intangilangcempaka@gmail.com; ABSTRAK Alpukat Kalibening merupakan salah satu jenis alpukat yang dihasilkan oleh petani di Desa Kebondalem, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Alpukat tersebut saat ini sedang dalam proses untuk memperoleh sertifikat dari BPSB. Salah satu syarat untuk pendaftaran varietas hortikultura tersebut adalah uji sosial ekonomi. Salah satu uji sosial ekonomi ditujukan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap komoditas tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Responden ditentukan dengan menggunakan metode simple random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji multiatribut Fishbein. Hasil uji persepsi menunjukkan bahwa responden memiliki persepsi yang sangat positif terhadap alpukat kalibening dibandingkan pada alpukat Kendil, Wina, dan Rejosari karena produktivitas, tekstur dan rasa buah yang lebih unggul daripada alpukat lainnya. Dengan demikian, Alpukat Kalibening memiliki potensi secara teknis untuk dikembangkan. Kata Kunci: alpukat, kalibening, uji sosial ekonomi, persepsi, fishbein. 1. PENDAHULUAN Alpukat merupakan salah satu komoditi hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat di Indonesia. Selain daging buah alpukat yang enak untuk dikonsumsi langsung dan memiliki kandungan zat gizi yang cukup tinggi dan lengkap, daging buah alpukat juga memiliki manfaat untuk menurunkan kolesterol, mencegah kulit muka keriput dan wajah yang kering (Rukmana, 1997). Selain buahnya, pohonnya, daunnya hingga bijinya pun memiliki banyak manfaat. Pohon alpukat cocok ditanam di lahan kering untuk memperbaiki lingkungan dan mencegah erosi (Rukmana, 1997). Biji alpukat dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati sakit gigi dan daun alpukat juga memiliki manfaat sebagai untuk mengobati sakit gigi (Rukmana, 1997). Daun alpukat dapat digunakan sebagai pewarna alami (Lestari, 2014), obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit, dan mengandung antioksidan alami (Katja et.al., 2009). Selain manfaatnya yang beragam dari mulai buah hingga daunnya, alpukat juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi serta potensial untuk dikembangkan di Indonesia (Tamalia et.al., 2018). Produksi alpukat pada tahun 2018 sebesar 410.094 ton (BPS, 2018). Produksi tersebut meningkat 12,92% dari tahun 2017 yang mencapai 363.157 ton (BPS, 2018). Produksi tertinggi berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat, sedangkan Jawa Timur menempati urutan ketiga dalam hal jumlah tanaman yang menghasilkan, tetapi urutan keempat dalam produksi (BPS, 2018). Dengan kata lain, produktivitas tanaman alpukat di Jawa Tengah relatif lebih rendah dari Provinsi Sumatera Utara. Walaupun tidak termasuk dalam lima besar buah yang paling banyak diproduksi, tetapi alpukat yang dihasilkan di Indonesia juga telah mulai diekspor ke pasar internasional. Pada