SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2016 MS 171 Pengaruh Belanja Daerah Terhadap PDRB Jawa Tengah Menggunakan Panel Vector Error Correction Model (PVECM) Siti Badriyah Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten siti.badriyah@bps.go.id Abstrak— Alokasi anggaran belanja daerah merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal yang dapat digunakan pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya karena memiliki fungsi sebagai alokasi, distribusi dan stabilisasi. Belanja daerah menurut jenisnya dikelompokkan menjadi belanja pegawai, belanja barang/jasa, belanja modal dan belanja lainnya. Belanja pegawai, belanja barang/jasa, dan belanja modal ditengarai memberikan efek langsung maupun tidak langsung terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meneliti seberapa besar pengaruh alokasi belanja daerah yang meliputi belanja pegawai, belanja barang/jasa, dan belanja modal terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Panel Vector Error Correction Model (PVECM) yang diterapkan pada data PDRB, belanja pegawai (BP), belanja barang dan jasa (BB), dan belanja modal (BM) sebanyak 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah selama kurun 2004-2013. Berdasarkan spesifikasi, estimasi dan pemeriksaan model, maka diperoleh model PVECM(3) sebagai model terbaik. Model PVECM menunjukkan bahwa belanja pegawai, belanja barang/jasa, dan belanja modal berpengaruh signifikan terhadap PDRB baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Alokasi jenis belanja pegawai tidak berpengaruh signifikan terhadap PDRB dalam jangka pendek, namun berpengaruh negatif dalam jangka panjang. Alokasi jenis belanja modal berpengaruh positif terhadap PDRB baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Alokasi jenis belanja barang berpengaruh positif terhadap PDRB dalam jangka pendek, namun berpengaruh negatif terhadap PDRB dalam jangka panjang. Kontribusi alokasi belanja daerah terhadap PDRB tidak begitu besar hanya sebesar 37,8 persen. Hal ini berarti peran faktor lain termasuk peran swasta dalam menggerakan perkembangan ekonomi Jawa Tengah lebih besar dari peran pemerintah. Kata kunci: PVECM, PDRB, Belanja Modal, Belanja Pegawai, Belanja Barang. I. PENDAHULUAN Dengan adanya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang telah berlangsung sejak tahun 2001, pemerintah pusat telah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk mengelola pemerintahan dan keuangannya sendiri. Pemerintah daerah dapat menyusun perencanaan pembangunan ekonomi daerah yang lebih baik dan komprehensif sesuai dengan kondisi, potensi dan kebutuhan penduduknya. Dari sisi anggaran, pemerintah daerah mempunyai keleluasaan dalam menggali pendapatan dan mengalokasikan anggaran belanja yang sesuai dengan program pembangunan ekonomi yang telah disusun. Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan pembangunan ekonomi di daerah dapat berjalan lebih optimal dan lebih berdaya guna sehingga masyarakatnya menjadi lebih maju dan lebih sejahtera. Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan ekonomi daerah yang sering digunakan adalah pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu daerah menunjukkan perekonomian daerah tersebut berkembang dengan pesat dan kapasitas produksi dan jasa meningkat pesat. Pertumbuhan ekonomi diperoleh dari penghitungan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan seluruh nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang dihasilkan wilayah domestik dalam suatu periode satu tahun. Selama 5 tahun terakhir rata-rata laju pertumbuhan ekonomi per tahun kabupaten/kota di Jawa Tengah sangat bervariasi dengan kisaran antara 2,8 persen – 6,3 persen. Dibandingkan dengan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi pertahun provinsi jawa Tengah yang sebesar 5,3 persen, terdapat 10 kabupaten yang lebih rendah dan 25 kabupaten/kota lainnya memiliki rata-rata laju pertumbuhan pertahun yang lebih tinggi. Kabupaten Sragen, Banyumas, Semarang dan Kota Semarang merupakan kabupaten/kota yang memiliki perkembangan ekonomi yang lebih cepat dengan rata-rata laju pertumbuhan pertahun di atas 6,0 S - 27