KAMBOTI/Volume 2 Nomor 1, 2021 50 | Page KAMBOTI Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Menampilkan Kristen yang Ramah Terhadap Adat Roh Nenek Moyang di Tanah Batak dengan Pendekatan Pendidikan Agama Kristen Christar Arstilo Rumbay 1* , Binsar Hutasoit 2 , dan Tunggul Yulianto 3 1,2,3 Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa; e-mail: christar.indotec@gmail.com Abstrak: Agama Kristen menampilkan kearogansian dan superioritas terhadap kebudayaan penyembahan roh nenek moyang di tanah Batak. Hal ini menyebabkan pertarungan dan pergulatan antara agama dan budaya, selain itu ruang publik menjadi tempat untuk saling melakukan penetrasi. Pendekatan pendidikan Agama Kristen menawarkan pendekatan yang lebih ramah sehingga agama Kristen bisa lebih menunjukan sikap kolaboratif dan reseptif karena mengedepankan karakter, moralitas, kebangsaan dan multikulturalisme. Sebagai akibatnya, pendidikan agama Kristen bersikap antroposentris, memusatkan perhatian pada nilai-nilai luhur manusia dan tidak mempersalahkan kebudayaan dengan ketentuan dokmatika agama. Kata Kunci: agama; batak; budaya; pendidikan; nenek moyang 1. Pendahuluan Perjumpaan antara agama Kristen dan kebudayaan Batak tidak menampilkan persenyawaan yang kolaboratif. Kekristenan cenderung menunjukan sikap arogansi dan kurang ramah dengan adat istiadat yang sudah eksis jauh sebelum agama hadir di tahan Batak. Kepercayaan animisme mendominasi penduduk di tanah Batak sampai pada abad ke 18. Pada tahun 1861, barulah untuk pertama kalinya agama Kristen disebarkan di daerah Angkola perbatasan daerah Toba. Para zending Kristen dari Jerman berhasil mengKristenkan sebagian penduduk, kemudian pada tahun 1864 para missionari memusatkan penyebaran agama di Taruntung Tapanuli Utara. Seorang pendeta Jerman I.L Nommensen memiliki kemampuan berbahasa Batak dan pendekatan sosial yang aktif menyebabkan ia diberi gelar ‘Ompu’ atau ‘Kakek’ oleh masyarakat setempat. Pada zaman ini kekristenan menyebar dengan cepat di tanah Batak kemudian diikuti oleh Warneck yang menulis kamus Batak-Jerman dan buku ilmiah lain. Kemudian pada tahun 1904 para zending Belanda mencoba untuk menyebarkan agama Kristen di daerah Karo namun tidak mendapatkan hasil yang maksimal dibandingkan dengan pencapaian I.L Nommensen dan Warneck (Siahaan, 1982:7-8). Selain masuk melalui ajaran agama, para zending melakukan pendekatan melalui bidang kesehatan dan pendidikan yang berhasil menanamkan nilai-nilai agama terhadap masyarakat di tanah Batak. Itulah sebabnya dalam menyebarkan agama, pendekatan monolog dengan menampilkan dogmatika secara teologis perlu didukung dengan model pendekatan lain. Sehingga menurut Elvis Purba dan Ahrasani Purba pendidikan mampu menunjang penyebaran agama bahkan memainkan peran terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia (Purba, 2009; Purba, 2015). Dengan demikian, pendekatan pendidikan agama bisa menjadi salah satu alternatif dalam penyelesaian konflik atau intensi sosial dan agama. Menurut Hieronymus Poltak Manalu, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi agama Kristen adalah eksistensi adat istiadat. I.L Nommansen mencoba melakukan pendekatan dengan