PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN KESEJAHTERAAN SISWA Usmi Karyani 1 , Nanik Prihartanti 2 , Wiwien Dinar Prastiti 3 , Rini Lestari 4 , Wisnu Sri Hertinjung 5 , Juliani Prasetyaningrum 6 , Susatyo Yuwono 7 , Partini 8 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta 1 email: Usmi.Karyani@ums.ac.id 2 email: Nanik.Prihartanti@ums.ac.id 3 email: wiwien_pratisti@ums.ac.id 4 email: Rini.Lestari@ums.ac.id 5 email: ws_hertinjung@yahoo.com 6 email: juliani@ums.ac.id 7 email: Sustayo.Yuwono@ums.ac.id 8 email: Partini@ums.ac.id Abstract The aim of this study is to develop an instrument that can be used to measure students wellbeing according to the context of student life. The instruments are arranged in behavioral scale. Item in the scale is based on six aspects of the student’s wellbeing that were identified through indigenous wellbeing framework in a previous study conducted by Karyani, et al (2014). Psychometric methods used to determine the coefficient of content validity and the coefficient of discrimination of items. A total of 11 psychologists and psychometric expert provide an assessment of each item in the instrument to determine the content validity. Scales also tested to 398 junior high school students (M: 210, F: 188), aged between 12-16 years to determine the coefficient of determination of each item. The results of the study showed that the students wellbeing scale that developed in this study consist of 20-item which have a high coefficient of content validity and have a good discrimination coefficient. Distribution of item, coefficients validity and coefficients discrimination of each item are described in detail in this paper. Keywords: measurement,wellbeing,student 1. PENDAHULUAN Selama dua dekade terakhir ini terjadi peningkatan minat terhadap psikologi positif. Hal ini berdampak pada terjadinya pergeseran penelitian psikologi di berbagai belahan dunia, termasuk pengukuran atribut psikologis. Dalam hal ini indikator-indikator pengukuran yang digunakan dalam penelitian psikologi mengalami perubahan, yang semula menggunakan cara pandang “deficit atau negatif bergeser pada cara pandang yang lebih positif dengan memberikan penekanan terhadap sumber daya dan pemenuhan wellbeing 1 (Camfield, dkk, 1 Istilah wellbeing dalam kosa kata Bahasa Indonesia belum dibuat padanannya, namun demikian para peneliti topik ini menterjemahkan wellbeing sebagai kesejahteraan (Hartanti, 2010; 2009). Hal yang sama terjadi pada pengembangan kebijakan, di mana kesejahteraan digunakan sebagai indikator untuk membantu memonitor kualitas hidup dan kebijakan (Ereaut & Whiting, 2008; Taylor, 2011), baik di negara maju maupun berkembang (Samman, 2007; Camfield, dkk, 2009; WHO, 2001; Unicef, 2012). Salah satu isu menarik yang banyak mendapat perhatian adalah kesejahteraan pada anak dan dunia pendidikan. Dalam kebijakan bidang pendidikan di banyak negara kesejahteraan dijadikan sebagai indikator penting untuk menilai kualitas Faturochman, 2012). Dalam tulisan ini istilah kesejahteraan digunakan sebagai padanan kata wellbeing ISSN 2407-9189 University Research Colloquium 2015 65