IMPLIKASI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB TERHADAP KEMAMPUAN MAHASISWA STAIN PEKALONGAN DALAM MEMBACA LITERATUR BAHASA ARAB Miftahul Ula Muhandis Azzuhri A. Ubaidi Fathudin Marlina * Abstrak: Kemampuan membaca literatur Arab mahasiswa STAIN Pekalongan dalam penelitian ini ditemukan agak rendah. Ada dua hal yang mempengaruhinya, yaitu strategi pengajaran dan fasilitas pembelajaran bahasa Arab. Adapun faktor dosen, media pengajaran dan materi pengajaran bahasa Arab memiliki pengaruh yang tidak maksimal. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif-kuantitatif dengan metode random sampling. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa semester VII STAIN Pekalongan jurusan Syari’ah dan Tarbiyah. Hasil penelitian ini penting karena dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pengambil kebijakan pembelajaran bahasa Arab STAIN Pekalongan agar dapat melakukan peninjauan ulang kebijakan terhadap seluruh komponen yang terkait dalam pembelajaran bahasa Arab yang mencakup dosen, materi, media, strategi dan lain-lain. Kata Kunci: Bahasa Arab, Membaca, Literatur Arab Pendahuluan UIN/IAIN/STAIN serta kampus-kampus di bawah institusi Departemen Agama memandang bahwa kemampuan berbahasa Arab merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa yang akan melakukan kajian Islam seperti tafsir, hadis, fiqih, akidah, tasawuf, dan kalam maupun disiplin ilmu-ilmu keislaman lainnya. Hal ini didasari kenyataan empirik bahwa ilmu-ilmu tersebut ditulis sekaligus dijelaskan dalam bahasa Arab. Secara rasional, sangat tidak mungkin seseorang dapat menguasai disiplin ilmu- ilmu keislaman seperti di atas tanpa memiliki kemampuan yang utuh dalam bahasa Arab. Karena itu, bagi lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN, IAIN atau STAIN menguasai bahasa Arab adalah suatu keharusan agar para mahasiswanya mampu mendalami secara kritis ilmu-ilmu keislaman yang dikembangkan secara kritis. Tetapi, seringkali, proses pembelajaran bahasa Arab berbenturan dengan berbagai hal, seperti terkesan menakutkan, monoton dan tidak mengacu pada salah satu bentuk kemahiran berbahasa yaitu kemahiran membaca (mahârat al-qirâ’ah), kemahiran mendengar (mahârat al-istimâ’), kemahiran berbicara (mahârat al-kalâm), dan kemahiran menulis (mahârat al-kitâbah). Membaca sebagai salah satu bentuk kemahiran berbahasa adalah sebuah proses yang kompleks dan rumit. Membaca dimulai dari melafalkan apa yang tertulis, kemudian menerjemahkannya menjadi suatu makna (decoding atau persepsi) dan akhirnya menerapkannya dalam kehidupan. Untuk dapat menerapkan hasil bacaan, seseorang terlebih dahulu harus melalui proses menerjemahkan simbol-simbol bahasa. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan kemampuan tata bahasa yang memadai, karena dalam proses penerjemahan itu terjadi * Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan