Seminar Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2015 ISBN: 978-979-796-238-6 III-64 SENTRA SEAKEEPING KAPAL PERIKANAN 30 GT DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR Sabaruddin Rahman 1 , Andi Haris Muhammad 2 , Daeng Paroka 3 , Syarifuddin Dewa 4 1, 2, 3, 4 Universitas Hasanuddin, Makassar Kontak Person: Sabaruddin Rahman Jl. Perintis Kemerdekaan km. 10 Makassar, 90245 Telp: 085399969186, Fax: 0411-586015, E-mail: sabarahman5@gmail.com Abstrak Hasil tangkapan nelayan umumnya mengalami penurunan saat terjadi cuaca buruk di lautan. Hal ini dikarenakan kecepatan angin yang tinggi dan diikuti oleh gelombang yang relatif besar mengakibatkan pergerakan kapal juga besar dan tidak teratur pada enam derajat kebebasan. Sehingga mengakibatkan nelayan tidak dapat mengoperasikan peralatan tangkap dengan baik saat bekerja. Pada kondisi terburuk, mereka tidak dapat melaut karena pertimbangan keselamatan di laut. Studi ini mengevaluasi kriteria seakeeping kapal perikanan. Kapal yang digunakan adalah tipe perikanan tangkap berbahan dasar kayu (wooden fishing boat) berbobot 30 GT yang dioperasikan di selat Makassar. Perubahan ukuran lambung kapal dilakukan dengan penambahan dan pengurangan masing-masing sebesar 5% dan 10% terhadap panjang kapal dengan mempertahankan bobot kapal. Hal ini dilakukan untuk menguji kelayakan ukuran yang sudah ada dibandingkan dengan alternatif ukuran tersebut. Simulasi gerakan heaving dan pitching dilakukan menggunakan program Seakeeper pada kondisi arah pergerakan kapal berlawanan dengan arah gelombang (head seas). Sementara pergerakan rolling pada kondisi beam seas. Parameter gelombang yang digunakan diperoleh dari ERA Interim data server. Evaluasi gerakan tersebut dinilai berdasarkan Respond Amplitude Operator (RAO) dan motion sickness incidence (MSI). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai RAO kapal E lebih kecil dibanding kapal C. Namun berdasarkan nilai MSI, unjuk kerja kapal C lebih baik dibanding kapal lainnya. Nilai MSI yang berada pada rentang 10% sampai 20% menunjukkan bahwa pada kondisi ekstrim, kapal kurang nyaman dioperasikan. Kata kunci: kapal perikanan, RAO, MSI Pendahuluan Kapal perikanan umumnya beroperasi di perairan terbuka, dimana pada musim tertentu mengalami gelombang dan badai yang mempengaruhi operasi kapal. Kondisi lingkungan tersebut berpengaruh terhadap pergerakan kapal yang selanjutnya dapat mengakibatkan kondisi kru kapal menurun. Studi tentang penyebab kecelakaan kapal yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa kecelakaan dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: kesalahan manusia, faktor alam dan faktor teknis [1]. Faktor alam di sini adalah cuaca buruk yang menimbulkan gelombang yang tinggi sehingga mengakibatkan kapal bergerak dengan amplitudo maupun frekuensi tertentu. Pergerakan tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan terhadap penumpang di atas kapal, bahkan dalam kondisi terburuk mengakibatkan kecelakaan. Untuk itu, maka unjuk kerja gerakan kapal (seakeeping) pada kondisi lingkungan wilayah perairan beroperasinya perlu diperhitungkan pada tahap desain. Pihak perencana harus mampu meminimalkan ketidaknyamanan tersebut dan juga dapat meyakinkan bahwa keselamatan kru terpenuhi. Pengaruh performa seakeeping terhadap kenyamanan kru kapal sangat berhubungan erat dengan percepatan vertikal dan horizontal yang dialaminya. Pengaruh percepatan vertikal terhadap manusia telah ditentukan dalam standar internasional ISO ([2] dalam [3]). Standar tersebut memberikan batasan ketidaknyamanan akibat mabuk laut sebagai hubungan antara variabel percepatan, frekuensi percepatan dan durasi terjadinya percepatan. Selain standar internasional tersebut, aturan lain dapat diterapkan yaitu motion sickness incidence (MSI) [4]. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa jumlah manusia (dalam persentase) yang