144
ProTVF, Volume 6, No. 2, 2022, hlm. 144-163
https://doi.org/10.24198/ptvf.v6i2.35371
Submitted: August 2021, Revised: July 2022, Accepted: July 2022, Published: September 2022
ISSN: 2548-687X (printed), ISSN: 2549-0087 (online). Website: http://jurnal.unpad.ac.id/protvf
Register with CC BY NC SA license. Copyright © 2022, the author(s)
Korespondensi: Ardy Aprilian Anwar, S.Pd., M.Sn.. Universitas Telkom. Jl. Telekomunikasi No.1, Ters.
Buah-Batu, Bandung 40257 Indonesia. Email: ardyapriliananwar@telkomuniversity.ac.id
Persepsi peran efek suara pada serial animasi garapan rumah-rumah produksi
di Indonesia
Ardy Aprilian Anwar
1
, Nurulita Widianti
2
, Magda Amalia Sumbodo
3
1,2,3
Fakultas Industri Kreatif, Universitas Telkom, Bandung, Indonesia
ABSTRAK
Perkembangan teknologi kini semakin berkembang ke arah digitalisasi. Salah satu penentu kualitas karya
animasi adalah unsur suara, khususnya sound efects. Suara merupakan salah satu unsur pembentuk dunia
imajinasi dalam animasi. Namun tayangan animasi yang diproduksi beberapa rumah produksi di Indonesia
dianggap belum mampu menyaingi karya-karya luar Negeri jika dilihat dari sumber daya manusia dan
fasilitasnya. Ketika sistem kejar tayang berlaku, aspek sound efect tidak lagi menjadi hal penting, melainkan
hanya mengutamakan suara dialog yang jelas dan musik yang dianggap pas dengan adegan saja. Penelitian
ini bertujuan mengetahui persepsi rumah produksi serial animasi di Indonesia terhadap penerapan dan
kelengkapan efek suara dalam karya animasinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif,
dengan kumpulan data yang berasal dari wawancara partisipan secara indepth interview dan observasi
dokumen pada karya-karya animasi tersimpan. Data observasi dokumen akan menjadi dasar perolehan
asumsi. Kemudian asumsi tersebut menjadi bahan untuk merumuskan pertanyaan penelitian secara deduktif.
Selanjutnya data wawancara diolah dengan metode pengkodean, hasil pengolahan data-data tersebut menjadi
bahan pembahasan penelitian mendalam melalui kajian persepsi dampak budaya. Kami mendapatkan
temuan bahwa kondisi penggarapan efek suara yang kurang berkualitas diakibatkan karena rumah produksi
serial animasi di Indonesia masih beranggapan bahwa aspek efek suara dalam serial animasi belum menjadi
prioritas, ketimbang aspek gambar. Solusinya adalah membentuk pola garap baru dengan memperbaharui
eksternal diri penggarap lama pada pendidikan formal dan non-formal, atau membentuk internal diri
penggarap baru yang lebih matang.
Kata-kata Kunci: Serial animasi; rumah produksi, penggarapan, kelengkapan efek suara, persepsi
Perception of the role of sound efects in animated series produced by production
houses in Indonesia
ABSTRACT
Technological developments are now increasingly developing in the direction of digitalization. One of
the determinants of the quality of animation work is the sound element, especially sound efects. Sound
is elements that make up the world of imagination in animation. However, animation shows produced by
several production houses in Indonesia are considered unable to compete with foreign works when viewed
from human resources and facilities. When the chase system applies, the sound efect aspect is no longer
important, but only prioritizes clear dialogue and music that is considered appropriate to the scene. This study
aims to determine the perception of animation series production houses in Indonesia on the application and
completeness of sound efects in their animation works. The research uses descriptive qualitative methods,
with data collection derived from participant interviews with in-depth interviews and document observations
on stored animation works. Document observation data will be the basis for obtaining assumptions. Then
these assumptions become material for formulating research questions deductively. Furthermore, the
interview data were processed using the coding method, and the results of processing these data became
material for in-depth research discussions through the study of cultural impact perceptions. We found that
the poor quality of sound efects by the production houses of animated series in Indonesia still assuming
that the sound efect aspect in animated series has not become a priority, rather than the image aspect. The
solution is to form a new pattern of cultivation by renewing the external of the old cultivators in formal and
non-formal education, or forming the internal of the new cultivators who are more mature.
Keywords:Animated series; production house, cultivation, sound efects completeness, perception