Psyché, kupu-kupu putih, dan Zhonghua (“bangsa tengah”) Mengetahui dan mengenal budaya teman akan menambah pengetahuan dan kebijaksanaan diri untuk menghormati dan bertoleransi, di dalam dunia yang penuh dengan syak prasangka karena ketidaktahuan. J.A.M Di bumi, kehidupan berdampingan dengan kematian. Definisi kematian secara umum adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan atau berhentinya sesuatu yang menghidupkan dalam organisme biologis, yang diantaranya adalah berhentinya proses bernafas. Tetapi, kepastian akan keakhiran total “seluruh kehidupan” saat kematian datang, tidak selalu dapat didefinisikan “total” dikarenakan berbagai macam kebudayaan yang mempercayai adanya kehidupan jiwa di dalam badan. Menurut berbagai macam budaya, saat kehidupan badaniah berakhir, jiwa yang adalah energi vital kehidupan memasuki dimensi yang berbeda, yang turut mengubah sifatnya dari sebuah energi vital kehidupan menjadi energi vital dalam kehidupan yang lain. Jiwatman atau juga Prana (Sansekerta), Nephesh (Ibrani) atau juga Ruach (Ibrani ), Pneuma (Yunani ), Qalbi(Arab)- adalah sesuatu yang menghidupkan manusia dan berhubungan dengan sang Pencipta, sang Pemilik, sang Tertinggi, ataupun nenek moyang, cikal bakal manusia pertama terjadi. Psyché (Yunani) dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai jiwa, suatu bagian dari manusia yang tidak bersifat jasmani, tetapi bersifat roh dan tetap hidup setelah tubuh jasmani mati. Menurut Plato, jiwa itu tak pernah tidak eksis, karena kekal. Forma kekalnya tidak terhambat oleh kegelapan dan keterbatasan "gua", di alam pikiran ini jiwa itu mudah mengakses semua pengetahuan. Berbicara mengenai pengetahuan, tidak terlepas dari perilaku manuasia terhadap kematian yang meliputi komponen akan pengertian, kasih sayang, dan kehilangan, yang juga refleksi diri manusia terhadap kematian. Berdasatkan komponen dasar maka diasumsikan bahwa konsep kematian adalah universal dan variasi dari sikap terhadap kematian serta acara ritualnya di seluruh dunia sangat minim adanya. Bagaimanapun juga, pengalaman dan ekspresi manusia terhadap rasa kehilangan, dipertajam oleh konteks sosial dan budaya. Dengan adanya faktor struktur sosial dalam peristiwa kematian maka dapat dipelajari perkembangan dari suatu kebudayaan, yang menggambarkan sejarah budaya dari suatu masyarakat. Tulisan ini ingin menceritakan sedikit tentang perjalanan psyché ‘setelah’ hidup badaniah dan sikap keluarga almarhum menurut sudut pandang tradisi dari “Zhongguo” (Negara Tengah), yang dalam dialek Hokkien dikenal dengan nama Tiongkok. Pengalaman dan ekspresi saat menghadapi kematian sangat beragam dan “kompleks” bagi “Zhonghua” (bangsa tengah), dimana, 3 doktrin besar (San jiao) mendominasi dalam kehidupan beragama. Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme 1