ISBN 978-602-71759-8-3 Prosiding Simposium Nasional VIII Kelautan dan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar, 5 Juni 2021 225 Teknik Pembuatan Peta Evakuasi Tsunami Negeri Galala & Hative Kecil, Kota Ambon Techniques for making a tsunami evacuation map in the Negeri Galala and Hative Kecil Subdistrict, Ambon City Indah Kurniawati 1 & Rizky Muhammad Rahman 2 1 Universitas Muslim Indonesia Jl. Urip Sumoharjo Km. 5, Makassar 90231 2 Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah IV Makassar Corresponding author: jiwa2bercahaya@gmail.com ABSTRAK. Ambon merupakan wilayah dengan aktifitas seismik aktif yang memiliki potensi bencana tsunami. Sebagai langkah mitigasi dalam mengurangi jumlah kerugian akibat bencana tsunami, dibuat peta evakuasi tsunami dalam skala besar di wilayah Negeri Galala dan Kecamatan Hative Kecil, Kota Ambon. Studi ini bertujuan untuk membantu upaya pembuatan jalur evakuasi dengan mengkombinasikan informasi parameter gempabumi dan pemodelan tsunami menggunakan aplikasi ComMIT. Data yang digunakan adalah data bathimetri dari ETOPO1 1 arc menit dan data topografi SRTM 3 arc detik. Hasil dari studi ini adalah ketinggian tsunami maksimum di Negeri Galala dan Kecamatan Hative Kecil mencapai 4 meter, waktu tiba gelombang pertama sekitar 15-20 menit setelah terjadinya gempabumi dan jarak inundasi maksimum adalah 300 meter dari garis pantai.Titik kumpul yang disarankan yaitu SMPN 3 Ambon, Kantor ATR BPN dan Gudang Bulog. Kata kunci: ComMIT, ketinggian tsunami, inundasi, titik kumpul Pendahuluan Ambon merupakan kota terbesar di wilayah Kepulauan Maluku dan menjadi pusat perkembangan dan sebagai ibu kota Provinsi Maluku. Selain terkenal dengan keindahan pemandangan alam, Ambon juga memiliki ancaman potensi gempabumi dan tsunami yang cukup tinggi. Meskipun informasi terbatas, ada catatan sejarah tertulis yang memberikan beberapa informasi. Catatan tsunami pertama di Indonesia yang cukup lengkap adalah tsunami di pulau Ambon yang terjadi pada tanggal 17 Februari 1674. Menurut Rumphius [1] gempabumi dan tsunami ini diperkirakan menelan korban hingga 2.500 jiwa. Selain dari catatan Rumphius, beberapa sejarah tsunami lain juga dicatat oleh para ahli tsunami yang melakukan penelitian tsunami di kepulauan Maluku [2, 3]. Kejadian yang tidak kalah menariknya adalah gempa bumi dan tsunami Ambon yang menghantam Hative Kecil dan Galala pada hari Minggu 8 Oktober 1950 menjelang siang hari. Informasi kejadian ini sangat sedikit, baik pemberitaan surat kabar, tulisan ilmiah, maupun laporan pemerintah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geopolitik di Maluku yang saat itu sedang bergolak karena adanya pertempuran antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tentara Republik Maluku Selatan (RMS). Dari kondisi kebencanaan gempabumi dan tsunami tersebut, Kota Ambon sangat beresiko terhadap dampak tsunami. Dengan informasi yang terbatas, kami mencoba menjawab bagaimana dan dari mana tsunami tahun 1950 itu terjadi. Selain itu sebagai langkah mitigasi dalam mengurangi jumlah kerugian akibat bencana tsunami, sangat diperlukan adanya peta evakuasi tsunami. Khususnya dalam skala besar yang dipasang di sekitar pantai dan wilayah beresiko terdampak tsunami.