Jurnal Pengabdian Masyarakat J-DINAMIKA, Vol. 4, No. 2, Desember 2019, P-ISSN : 2503-1031, E-ISSN: 2503-1112 148 PENGEMBANGAN LARUTAN DAUN BINAHONG SEBAGAI ANTISEPTIC MENGATASI MASTITIS PADA SAPI PERAH DI KELOMPOK TERNAK GIRI MUKTI, TASIKMALAYA # Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Perjuangan Tasikmalaya Jalan Peta No 177, Kahuripan, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia1 1 wijayantidwi12@gmail.com * Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Perjuangan Tasikmalaya Jalan Peta No 177, Kahuripan, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia 2 2 firgian.peternakan.unper@gmail.com Abstrak Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk menjadikan kelompok ternak Giri Mukti di desa Guranteng kecamatan Pageurageung kabupaten Tasikmalaya menjadi kelompok ternak dengan tingkat produktivitas dan reproduksi yang tinggi dengan penurunan penyakit mastitis. Tujuan khusus dari setiap rencana tahun pengabdian masyarakat adalah pengenalan, pengecekan status reproduksi dan pembuatan larutan daun Binahong sebagai antibakteri (mastitis). Metode yang digunakan adalah survey, transfer teknologi dan plot demonstrasi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternative dalam penanggulangan, pencegahan gangguan reproduksi dan kesehatan khususnya mastitis dengan penggunaan tanaman herbal yaitu daun binahong. Permasalahan turunnya produksi susu, penyakit mastitis dan kurangnya perhatian peternak terhadap perkembangan sapi teratasi dengan obat antiseptic yang berasal dari daun binahong. Kata Kunci Daun Binahong, Mastitis, Teat Dipping dan Sapi Perah. I. PENDAHULUAN Tingkat kemajuan suatu usaha peternakan sapi perah adalah peternakan yang memiliki aspek manajemen yang baik. Baik dalam manajemen reproduksi, pakan dan kesehatan. Kondisi kemajuan usaha peternakan dapat dilihat dari pengaturan sistem manajemennya. Industri peternakan sapi perah yang sudah maju dan besar selalu menerapkan manajemen yang baik dan benar. Karena manajemen yang baik menandakan usaha peternakan yang sudah maju. Berbeda dengan industri peternakan sapi perah skala kecil. Kelompok ternak giri mukti masih termasuk pada peternakan tradisonal pedesaan dengan konsep yang diterapkan masih bersifat sederhana. Manajemen kesehatan yang diterapkan masih belum baik atau bahkan kurang memenuhi standart yang ditentukan dalam pemeliharaan sapi perah. Manajemen reproduksi dan kesehatan adalah bagian penting usaha peternakan karena kesehatan ternak yang tinggi diikuti dengan manajemen reproduksi yang baik dapat menghasilkan efisiensi yang tinggi dengan produktivitas ternak yang tinggi pula [1]. Performa kesehatan pada sapi perah yang baik sangat tergantung dengan manajemen pemeliharaan, manajemen pemerahan dan manajemen kebersihan. Kelalaian atau sikap kurang perhatian saat proses pemerahan menyebabkan munculnya gangguan kesehatan pada sapi perah. Gangguan kesehatan reproduksi salah satu nya yaitu mastitis. Mastitis adalah peradangan pada ambing akibat adanya bakteri [2]. Proses penanganan pemerahan terdiri dari awal pemerahan, proses pemerahan dan pasca pemerahan [3]. Permasalahan dalam penanganan pasca pemerahan yaitu kesalahan saat dipping membuat munculnya mastitis pada sapi perah. Selesai proses pemerahan saluran air susu pada puting beberapa saat masih terbuka sehingga kuman atau bakteri lebih mudah masuk ke dalam ambing. Secara klinis radang ambing dapat berlangsung secara akut, subakut dan kronik. Radang dikatakan bersifat subklinis apabila gejala-gejala klinis radang tidak ditemukan saat pemeriksaan ambing. Pada proses radang yang bersifat akut, tanda-tanda radang jelas ditemukan, seperti: kebengkakan ambing, panas saat diraba, rasa sakit, warna kemerahan dan terganggunya fungsi. Air susu berubah sifat, menjadi pecah, bercampur endapan atau jonjot fibrin, reruntuhan sel maupun gumpalan protein. Proses yang berlangsung secara subakut ditandai dengan gejala sebagaimana di atas, namun derajatnya lebih ringan, ternak masih mau makan dan suhu tubuh masih dalam batas normal. Mastitis dapat menyebabkan perubahan fisik, kimia, dan bakteriologi dalam susu serta perubahan patologi dalam jaringan glandula. Perubahan yang paling menonjol dalam susu meliputi perubahan warna, terdapat gumpalan dan munculnya leukosit dalam jumlah besar [4]. Mastitis merupakan penyakit radang ambing yang disebabkan oleh mikroorganisme terutama dalam bentuk bakteri, penyakit ini menimbulkan banyak kerugian pada Dwi Wijayanti #1 , Firgian Ardigurnita *2