Jurnal Sipil Statik Vol.7 No.7 Juli 2019 (767-776) ISSN: 2337-6732 767 ANALISIS PERHITUNGAN LUAS TULANGAN GELAGAR JEMBATAN PENAMPANG PERSEGI DAN PENAMPANG T MENURUT METODE BMS 1992 Sri Rachmila Manangi Theo K. Sendow, Audie L.E. Rumayar Fakultas Teknik, Jurusan Sipil, Universitas Sam Ratulangi Manado email : srimanangi07@ymail.com ABSTRAK Suatu jembatan direncanakan untuk mampu memikul beban baik beban hidup maupun beban mati. Gelagar adalah bagian struktur atas jembatan yang berfungsi mendukung semua beban yang bekerja pada lantai jembatan. Dua tipe penampang gelagar yaitu gelagar penampang persegi dan gelagar penampang T dianalisis untuk mengetahui besarnya perbedaan luas tulangan perlu dari kedua penampang ini, menggunakan metode Bridge Management System 1992 (BMS 1992), dengan bentang jembatan 8.00 m sampai 25.00 dan tinggi gelagar 0.60 m sampai 1.80 m terhadap perencanaan tulangan lentur gelagar yang menggunakan mutu beton (fc’) 30 MPa, mutu baja (fy) 300 MPa. Hasil analisis menunjukkan perhitungan luas tulangan dengan analisa penampang T akan sedtkit lebih ekonomis (paling kecil 85%), dibandingkan dengan perhitungan analisa penampang persegi, pada tinggi gelagar yang relatif rendah. Namun, pada tinggi gelagar yang semakin tinggi, hasil perhitungan luas tulangan kedua metode ini, akan mendekati sama (mendekati 100%). Sehingga perhitungan luas tulangan dengan analisa penampang persegi akan lebih dianjurkan dari pada analisa penampang T untuk tulangan tunggal. Kata Kunci : Gelagar Persegi, Gelagar T, BMS 1992, Luas Tulangan PENDAHULUAN Latar Belakang Perencanaan tulangan gelagar induk beton bertulang direncanakan untuk mampu memikul beban yang ada. Dalam metode pembebanan “Bridge Management System 1992” diberikan dua alternatif perhitungan analisa tulangan balok gelagar yaitu dengan menggunakan analisa perhitungan gelagar penampang persegi dan gelagar penampang “T”. Gelagar penampang persegi adalah penampang yang slab dan gelagarnya dianalisa tidak monolit, sedangkan gelagar penampang “T” adalah penampang balok persegi yang monolit dengan slab. Dimana, slab pada umumnya dicor secara monolit dengan gelagarnya. Maka kekuatan dan kekakuan gelagar persegi akan bertambah dengan adanya kontribusi dari slab. Tentunya dengan menggunakan kedua analisa tersebut, akan menghasilkan luas tulangan yang berbeda antara gelagar persegi dan gelagar T. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menganalisis perbedaan luas tulangan yang diperlukan pada gelagar dengan menggunakan analisa penampang persegi dan analisa penampang “T” pada jembatan beton sederhana dengan penampang tipikal pada bentang pendek. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, akan dihitung berapa besar luas tulangan perlu terhadap gelagar jembatan dengan menggunakan gelagar penampang persegi dan gelagar penampang T. Batasan Masalah Dalam penelitian ini pembahasan dibatasi pada: 1. Penelitian dilakukan hanya pada jembatan yang terletak diatas dua perletakan sederhana. 2. Tipikal penampang melintang adalah lebar trotoir 1.00m kiri dan kanan, lebar jalur jalan, 7.00m ( 1 7 1 ) dan tebal lantai jembatan 0.20 m. 3. Panjang bentang dari 8.00 m sampai 25.00 m dengan kenaikan panjang jembatan sebesar 1.00 m. 4. Tidak menghitung gaya geser serta tulangan geser. 5. Mutu beton yang digunakan adalah 30 MPa, mutu baja 300 MPa