JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 10, No.2 (2021), 2337-3520 (2301-928X Print) G33 AbstrakIndonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2035. Fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari mayoritas populasi Generasi Milenial. Kebutuhan perumahan yang terjangkau dan tingkat pengangguran yang tinggi karena lingkungan kerja yang kurang nyaman menjadi hal yang krusial bagi Generasi Milenial dalam menghadapi fenomena bonus demografi. Dengan menggunakan konsep co-living, perancangan ini berusaha untuk menghadirkan suatu tipologi baru dengan mengintegrasikan fungsi hunian dan tempat kerja di dalam satu objek rancang. Pendekatan arsitektur perilaku dengan metode utama behavior mapping dalam kerangka berpikir force-based framework digunakan untuk menjawab permasalahan terkait pola dan karakteristik Generasi Milenial dalam aspek work, life, and social. Metode behavior mapping dengan teknik place centered mapping yang diterapkan pada objek Koridor Co- working Space berfungsi untuk menghasilkan kebutuhan ruang, programming, kriteria desain, dan konsep desain. Objek rancang yang dihasilkan berupa hunian vertikal dengan sistem economic sharing bagi urban middle class millenial yang bekerja pada industri kreatif prioritas. Adanya konsep berbagi ruang tinggal yang didukung dengan konsep rumah tumbuh dapat memeberikan pilihan alternatif hunian terjangkau bagi Generasi Milenial di perkotaan. Selain itu, berbagi ruang kerja dan hunian dapat menjadi wadah bagi start-up kreatif untuk mengejar produktivitas dan kolaborasi antar partner. Agar objek rancang dapat menjadi katalis interaksi antar penghuni dan menciptakan ruang publik yang aktif, maka ruang komunal memiliki hirarki dan menggunakan konsep open layout. Dengan adanya objek rancang yang berbasis generasi ini diharapkan dapat meningkatkan resiliensi dan produktivitas Generasi Milenial dalam menghadapi bonus demografi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kata KunciBonus Demografi, Generasi Milenial, Industri Kreatif, Produktivitas. I. PENDAHULUAN NDONESIA diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 2035 yaitu ketika proporsi jumlah penduduk usia produktif berada pada 2/3 jumlah penduduk keseluruhan (Gambar 1) [1]. Fenomena bonus demografi ini tidak dapat dipisahkan dari Generasi Milenial yaitu kelompok populasi yang lahir pada tahun 1980 2000. Pada tahun 2017, jumlah Generasi Milenial di Indonesia mencapai 33,75% dari jumlah penduduk keseluruhan [1]. Hal ini menunjukkan bahwa sumbangan Generasi Milenial dalam membentuk usia produktif cukup tinggi sehingga potensi Generasi Milenial yang dimaksimalkan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kota Surabaya diprediksi akan mengalami window of opportunity berkali kali [2]. Selain itu, Surabaya juga menempati peringkat pertama dari lima besar kota di Indonesia dengan potensi usaha ekonomi kreatif. Kedua hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Surabaya sehingga banyak kalangan muda bermigrasi ke kota ini. Adanya migrasi yang masif tersebut menjadikan Surabaya sebagai kota dengan kepadatan penduduk tertinggi setelah Jakarta dan mulai muncul berbagai permasalahan seperti tingginya angka pengangguran dan adanya backlog hunian. Pada tahun 2020, satu dari sepuluh Generasi Milenial dikategorikan sebagai pengangguran terbuka (Tabel 1). Hal ini disebabkan oleh adanya fenomena job hopping karena lingkungan kerja yang kurang nyaman dan kurang sesuai dengan karakter Generasi Milenial yang fleksibel. Untuk menyikapi karakter Generasi Milenial yang terbiasa dengan kemudahan diperlukan adanya suatu lingkungan yang mewadahi seluruh kebutuhan Generasi Milenial di dalam satu kawasan. Oleh karena itu, penulis berusaha membuat suatu tipologi baru dengan mengintegrasikan fungsi hunian dan tempat kerja dalam satu objek rancang. Adanya tren model Konsep Co-Living dalam Integrasi Spasial Hunian Vertikal dan Ruang Kerja Hikma Fitriani dan Sarah Cahyadini Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: s.cahyadini@arch.its.ac.id I Tabel 1. Tingkat Pengangguran Terbuka Kota Surabaya Tahun 2017 - 2020 2017 2018 2019 2020 5,88% 6,01% 5,76% 9,79% Gambar 1. Bonus demografi dan angka ketergantungan Indonesia dari tahun 1950 sampai 2050. Gambar 2. Lokasi tapak terpilih.