E-ISSN 2541-0407
MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 37 No. 2, Mei 2022
P146-155
146
Transformation of Ramayana Story Mandates in
Indonesia-Thailand Tourism Performance Art
Robby Hidajat
1*
, Surasak Jamnongsarn
2
, Muhammad Afaf Hasyimy
3
1
Lecturer at the Study Program of Dance and Music Arts Education,
Department of Art and Design, Faculty of Letters, State University of Malang
2
Department of Traditional Thai and Asian Music, Faculty of Fine Arts, Srinakharinwirot University,
Sukhumvit 23 Wattana, Bangkok 10110 Thailand
3
Alumnus from the Faculty of Fine Arts Teaching, Department of Art and Design, Faculty of Letters,
State University of Malang
robby.hidajat.fs@um.ac.id
1*
, surasakja@swu.ac.th
2
, m.afafhasyimy@gmail.com
3
The background of this research is to answer the hesitance on moral messages in tourism performance art. Moral
messages in tourism performance art that plays Ramayana story are then analyzed. Ramayana story is presented
as tourism performance art in Indonesia and Thailand. In the beginning, Ramayana story is functioned to guide
the audiences to learn about moral ethics from the character, structure, and appearance of the presentation.
Ramayana story is now presented mostly for tourism entertainment but Educative Mandate of the story is still
conserved. The design of this research is qualitative descriptive with functional approach. Data collection method
involves interview and observation. Key informants are dancer, musician, tourism performance organizer, and art
teacher in art school that represent Indonesia and Thailand. Observation was conducted on the centers of tourism
performance art in Yogyakarta and Badung, Indonesia and also in Bangkok, Thailand. The results of research
showed that (1) Mandate of Morality in Romance refers to the moral values in the romance life of the characters
in Ramayana story; (2) Mandate of Woman Paragon considers woman as both strength and weakness of man; and
(3) Mandate of Causal Law emphasizes that the wrong is lost and the right is won.
Transformasi Amanat Lakon Ramayana dalam Seni Pertunjukan Wisata
Indonesia –Thailand
Penelitian ini didasari atas keraguan adanya pesan moral dari seni pertunjukan wisata, oleh karena itu dilakukan
analisis tentang pesan moral seni pertunjukan wisata berlakon Ramayana di dua negara, yaitu Indonesia dan
Thailand. Memperhatikan perkembangan seni wisata di Indonesia dan Thailand terus dikembangkan, salah
satunya adalah lakon Ramayana. Pada mulanya lakon Ramayana, difungsikan sebagai baca untuk mengenal etika
moral melalui tokoh, struktur, atau tampilan sebagai seni yang bersifat tuntunan, hingga kini telah berkembang
sebagai tontonan untuk menghibur wisatawan. Amanat Pendidikan dalam seni wisata tentunya masih diperlukan,
amanat apa yang dibutuhkan dalam penyajian seni wisata itu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fungsional. Metode pengumpulan data berupa wawancara,
dengan narasumber kunci yang terdiri dari penari, pemusik, pengelola pertunjukan wisata, dan pengajar seni di
perguruan tinggi seni di Indonesia dan Thailand. Selain dari pada itu juga dilakukan observasi ke pusat seni
pertunjukan wisata di Yogyakarta, Badung, dan Bangkok Thailand. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pesan
moral, (1) amanat berupa pesan moral kisah asmara (romantik), (2) amanat keteladanan wanita sebagai kekuatan
laki-laki dan sekaligus kelemahannya, (3) amanat tentang hukum sebab akibat, yang bersalah pasti kalah, dan
yang benar pasti akan jaya.
*Corresponding author
Received: January 18, 2022; Accepted March 13, 2022; Published April 26, 2022
https://doi.org/10.31091/mudra.v37i2.1880
© 2022 The Author(s). Published by Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar.
This is an open-access article under the CC BY-NC-SA license