258 Penyesuaian Spektrum Warna Pada Citra Digital Untuk Penderita Buta Warna Deuteranopia Rosa Andrie Asmara Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Malang Malang rosa_andrie@polinema.ac.id Rawansyah Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Malang Malang rawansyah@polinema.ac.id Whilyham Anjasmara Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Malang Malang whilyhamanjasmara@gmail.com AbstrakButa warna tidak dapat disembuhkan, karena salah satu penyebabnya terdapat pada pewarisan genetik dari orang tua, selain dapat diakibatkan dari konsumsi obat tertentu atau kecelakaan. Sehingga populasi penderita buta warna semakin bertambah tiap tahun. Jenis buta warna yang memiliki jumlah penderita terbanyak berasal dari jenis deuteranopia, yakni jenis buta warna yang mengakibatkan penderita tidak dapat melihat warna hijau dengan jelas. Maka dari itu penderita deuteranopia memerlukan bantuan dengan sentuhan teknologi untuk membantu visibilitasnya dalam mengidentifikasi warna. Pada beberapa penelitian, LMS Daltonisasi dan perbaikan warna LAB merupakan metode yang memudahkan keadaan mata penderita dalam memperjelas bentuk gambar. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kedua metode yang membantu penderita deuteranopia dalam menerima informasi warna dari gambar- gambar yang dilihatnya. Kinerja LMS Daltonisasi memanfaatkan pergeseran nilai yang didapatkan dari konversi RGB ke LMS, dan sebaliknya. Sedangkan perbaikan warna LAB menggunakan ruang warna LAB untuk menentukan kontras pada warna-warna yang tidak dapat diidentifikasi penderita dengan menggeser nilai L, a, dan b. Kedua metode diuji menggunakan gambar Ishihara dan gambar fullcolor pada penderita. Gambar keluaran metode LMS Daltonisasi mampu mengungkapkan 47% jenis warna bagi penderita, sedangkan untuk perbaikan warna LAB sebesar 63% jenis warna daripada gambar aslinya. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gambar hasil LMS Daltonisasi memiliki jumlah jenis warna lebih banyak daripada gambar asli pada pandangan penderita deuteranopia secara langsung, sedangkan pada gambar hasil perbaikan warna LAB memiliki jumlah jenis warna lebih banyak daripada gambar hasil LMS Daltonisasi. Kata kuncibuta warna; deuteranopia; lms daltonisasi; perbaikan warna lab; I. PENDAHULUAN Buta warna tidak dapat disembuhkan, karena salah satu penyebabnya terdapat pada pewarisan genetik dari orang tua, obat-obatan tertentu, dan bisa juga dari kecelakaan. Maka dari itu, jumlah penderita buta warna semakin bertambah setiap tahun. Pada tahun 2009[1], jumlah penduduk di Indonesia sekitar 239 juta jiwa yang menurut Kurnia[2] pada tahun 2007 sekitar 0,7% dari populasi tersebut adalah penderita buta warna. Jenis buta warna yang memiliki jumlah penderita terbanyak berasal dari jenis deuteranopia, yakni jenis buta warna yang mengakibatkan penderita tidak dapat melihat warna hijau dengan jelas. Sebagian besar penderita buta warna mengalami diskriminasi pada beberapa aspek. Penderita buta warna tidak bisa melanjutkan pendidikan pada bidang yang erat kaitannya dengan warna. Penderita buta warna membutuhkan bantuan orang bermata normal untuk memilih warna pakaian. Alhasil, penderita buta warna hanya dapat memiliki pekerjaan tertentu yang juga tidak banyak melibatkan warna. Maka dari itu penderita deuteranopia membutuhkan sentuhan teknologi untuk membantu visibilitasnya dalam mengidentifikasi warna. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa LMS Daltonisasi dan perbaikan warna LAB merupakan metode yang berfungsi untuk memperjelas bentuk gambar. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kedua metode yang membantu penderita deuteranopia dalam menerima informasi warna dari gambar-gambar yang dilihatnya. Kinerja LMS Daltonisasi memanfaatkan pergeseran nilai yang didapatkan dari konversi RGB ke LMS, dan sebaliknya. Sedangkan perbaikan warna LAB menggunakan ruang warna LAB untuk menentukan kontras pada warna-warna yang tidak dapat diidentifikasi penderita dengan menggeser nilai L, a, dan b. Kedua metode diuji menggunakan gambar Ishihara dan gambar fullcolor pada penderita. Gambar Ishihara yakni gambar yang umum digunakan dalam melakukan tes buta warna, sedangkan gambar fullcolor merupakan gambar yang memiliki seluruh rentang warna yang dapat dilihat dengan pandangan manusia normal. Sehingga dapat diketahui metode mana yang lebih tepat dalam membantu penderita deuteranopia. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Spektrum Warna Spektrum warna adalah seluruh rentang panjang gelombang cahaya yang terlihat oleh mata manusia dengan rentang sekitar 400 nanometer per panjang gelombang pada ujung spektrum ungu hingga 700 nanometer per panjang gelombang pada ujung spektrum merah[3]. B. Citra RGB Citra adalah gambar pada bidang dwimatra (dua dimensi. Ditinjau dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi menerus dari intensitas cahaya pada bidang dwimatra. Sumber cahaya menerangi objek, objek memantulkan kembali sebagian dari berkas cahaya tersebut. Citra berwarna RGB adalah citra yang memiliki 3 tingkat warna yang direpresentasikan dengan resolusi citra 3 dimensi. Pada citra digital, level pertama digunakan untuk menyimpan warna R (red/ merah), level kedua digunakan untuk menyimpan warna