Prosiding Seminar Nasional Volume 02, Nomor 1 ISSN 2443-1109 Halaman 890 dari 896 RESPON EMBRIO KAKAO (Theobroma cacao L.) PADA KONDISI CEKAMAN NaCl DAN PEG SECARA IN VITRO Mayasari Yamin 1 , Rahman Hairuddin 2 Universitas Cokroaminoto Palopo Mayasariyamin@gmail.com Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh embrio kakao yang toleran dan peka terhadap kondisi salinitas dan kekeringan secara in vitro berdasarkan perubahan morfologi yang muncul, dan kombinasi salinitas dan kekeringan (NaCl + PEG 6000) yang dapat dijadikan agen seleksi untuk indikator toleran dan peka terhadap salinitas dan kekeringan secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo yang berlangsung mulai bulan Januari sampai April 2016. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas empat perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (media WPM tanpa NaCl dan PEG), P1 (media WPM 15 g/L NaCl + 1 g/L PEG), P2 (media WPM 30 g/L NaCl + 1 g/L PEG), dan P3 (media WPM 45 g/L NaCl + 1 g/L PEG). Karakter yang diamati yaitu persentase embrio hidup dan perubahan morfologi embrio kakao. Hasil penelitian meunjukkan bahwa konsentrasi P0 memberikan persentase embrio hidup dan perubahan morfologi terbaik yaitu masing- masing 100% dan berwarna putih, P1 yaitu 66,67% dan berwarna putih kecokelatan, P2 yaitu 33,33% dan berwarna kecokelatan, sedangkan P3 yaitu 0% dan berwarna cokelat kehitaman. Kata Kunci : Embrio kakao (Theobroma kakao L.), NaCl, PEG 6000, toleran. 1. Pendahuluan Indonesia merupakan negara terbesar ketiga mengisi pasokan kakao dunia yang diperkirakan mencapai 20% dengan Negara Asia lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan Papua New Guinea (UNCTAD, 2007). Kakao berperan penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia terutama dalam penyediaan lapangan kerja baru, sumber pendapatan petani dan penghasil devisa bagi negara (Rahardjo, 1999). Produksi kakao (Theobroma cacao L.) di Indonesia tahun 2009 sampai 2013 masing-masing sebesar 820.49 ton, 837.92 ton, 712.23 ton, 740.51 ton, dan 777.54 ton. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan produksi dari tahun 2009 ke tahun 2013 sebesar 42.95 ton. Produksi kakao di Sulawesi Selatan dari tahun 2009 sampai 2013 masing-masing 164.44 ton, 173.76 ton, 142.83 ton, 146.84, 149.86 ton. Berdasarkan data produksi kakao di Sulawesi Selatan menunjukkan terjadi penurunan produksi dari tahun 2009 ke tahun 2013 sebesar 14,58 ton (Direktorat jendral perkebunan, 2013). Penurunan produksi kakao disebabkan meningkatnya lahan marginal yaitu lahan kering dan lahan salin (cekaman lingkungan). Cekaman kekeringan telah memberikan pengaruh yang buruk bagi produktivitas tanaman dan produksi pangan dunia. Earl dan Davis (2003) menyatakan bahwa cekaman kekeringan mengurangi hasil panen tanaman jagung yang disebabkan brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Cokroaminoto Palopo University Journals / Jurnal Elektronik Universitas Cokroaminoto...