Kematangan Emosi Dengan Pengembangan Karir DILA FADILLA 20022063 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Negeri Padang dilafadilla2005@gmail.com A. Pengembangan Karir Dan Kecerdasan Emosi Menurut Selligman (dalam Ingarianti, 2009) salah satu faktor yang mempengaruhi kematangan karier adalah emosional. Secara khusus, faktor emosional seperti harga diri rendah, neurotisisme, dan kecemasan telah memberikan kontribusi untuk keraguan dalam memilih karier (Lukas, 2005). Pada kenyataannya, banyak para sarjana yang haru lulus memilih suatu pekerjaan tanpa mempertimbangkan kemampuan, minat, dan kepribadiannya. Cenderung memilih suatu pekerjaan didasarkan pada rasa khawatir dan cemas bila terlalu lama menganggur adanya rasa malu pada lingkungan disekitar terutama jika belum memperoleh pekerjaan, dan adanya tuntutan moral dari orangtua. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan maka akan berdampak pada dirinya dan juga pada perusahaan dimana ia bekerja kelak. Karena pekerjaan yang dipilih jauh dari latar belakang pendidikan sehingga berakibat kurang memiliki skill yang memadai dalam menjalankan pekerjaan. Misalnya jika pekerjaan ini jauh dari minat, hasilnya tidak akan jadi maksimal, karena tidak melakukannya dengan 100%. Bagi perusahaan akan mengalami kerugian waktu dan biaya karena adanya proses adaptasi dari karyawanyang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, sehingga akan timbul keraguan dalam diri, berapa lama akan melakukan pekerjaan ini, dan bagaimana dengan karir di masa depan serta apakah karir ini sesuai dengan karir yang inginkan di masa depan (Putri, 2009). Persiapan diri dan pemilihan dalam menjalankan suatu pekerjaan atau kanr merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting. Menurut Conger (dalam Yusuf. 2009) mengemukakan bahwa suatu pekerjaan bagi remaja merupakan sesuatu yang secara sosial diakui sebagai cara (langsung atau tidak langsung) untuk memenuhi kepuasan berbagai kebutuhan atau motif yang tidak terpuaskan secara penuh pada masa sebelumnya. Pekerjaan itu juga dapat mengembangkan perasaan eksis dalam masyarakat, memperoleh sesuatu yang diinginkan dan mencapai tujuan hidup. Secara sosial orang yang bekerja mendapat status sosial yang lebih terhormat daripada yang tidak bekerja. Lebih jauh lagi orang yang memiliki pekerjaan secara psikologis akan meningkatkan harga diri dan kompetensi diri. Pekerjaan juga dapat menjadi wahana yang subur untuk mengaktualisasikan