Berkala MIPA, (23)1, Januari 2013 95 Pemodelan Intensitas Transisi dan Peluang pada Asuransi Perawatan Jangka Panjang Rosita Kusumawati 1 , dan Gunardi 2 1 Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Universitas Gadjah Mada Intisari Proses perubahan status kesehatan dalam asuransi perawatan jangka panjang dengan lima status dimodelkan dengan model markov multi status, yang dinyatakan sebagai model peluang transisi dari suatu status ke status yang lain. Dengan menggunakan data survival penghuni panti wredha Abi Yoso, Pakem, Sleman, pada bagian akhis tesis ini akan ditunjukkan penghitungan intensitas transisi, peluang transisi antar status dan premi asuransi untuk besar manfaat tertentu. Kata Kunci: Proses Markov Homogen, Multi Status, Asuransi Perawatan Jangka Panjang Abstract Health state changes process in long-term care insurance with five states can be modeled by multi state markov model, which represented by transition probability model from one state to other state. Using survival data from panti wredha Abi Yoso, Pakem, Sleman, at the end of this paper will be showed calculation of transition intensities, transition probability between state, and insurance premium for certain benefit. Keywords: homogeneous Markov Process, Multi State, Long-term Care Insurance 1. Pendahuluan Secara global pada tahun 1950 setiap satu lansia di atas usia 65 tahun didukung oleh sekitar 12 orang muda, yaitu usia 15-64 tahun. Pada tahun 2009 dukungan itu menurun menjadi hanya 9 orang. Pada tahun 2050 diproyeksikan bahwa setiap penduduk usia di atas 65 tahun hanya didukung oleh 4 penduduk usia 15-64 tahun saja. Kondisi Indonesia sendiri pun mengarah pada hal yang sama. Proyeksi penduduk Indonesia yang disusun oleh Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional beserta Badan Pusat Statistik menyatakan tingkat harapan hidup penduduk Indonesia diestimasikan meningkat mencapai 73,7 tahun pada tahun 2025 dari 69 tahun pada tahun ini. Data statistik Indonesia juga mengatakan trends angka fertilitas total Indonesai semakin menurunnya, dari 2,80 untuk tahun 1992, 2,34 untuk tahun 1997, dan 2,27 untuk tahun 2000 Di negara maju, para pendukung itu bekerja dan bagi lansia yang tidak bekerja diberi jaminan dan berbagai fasilitas yang memadai termasuk asuransi kesehatan dan asuransi perawatan jangka panjang. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia hampir tidak ada jaminan hari tua dari pemerintah atau lembaga asuransi karena penduduk umumnya tidak mempunyai asuransi hari tua. Karena itu, apabila dukungan anak dan kerabatnya berakhir, hampir pasti kualitas kehidupan lansia itu merosot drastis. Mengingat belum tersedianya jaminan hari tua dari pemerintah atau lembaga asuransi, khususnya perlindungan untuk biaya perawatan jangka panjang, kehadiran asuransi perawatan jangka panjang tentunya sangat diperlukan dalam melindungi seseorang dari seluruh biaya perawatan jangka panjang yang tinggi termasuk membayar jasa perawat, terapis serta ahli gizi selama perawatan jangka panjang. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by BIMIPA