Prosiding Seminar Nasional Volume 04, Nomor 1 ISSN 2443-1109 Halaman 187 dari 451 KESIAPAN PENDIDIKAN TINGGI DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DALAM PERSPEKTIF KELEMBAGAAN Harsya Harun 1 Universitas Andi Djemma Palopo Email: harsya_h@yahoo.co.id Abstrak Kelembagaan pendidikan tinggi merupakan frame bagi perguruan tinggi untuk menjalin interelasi yang konstruktif dalam menghadapi fase keempat dari revolusi industri. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data-data dan literatur yang relevan untuk dianalisis. Penguatan pilar regulatif, normatif, dan kultural-kognitif seharusnya diikuti dengan menyeleraskan dengan kondisi lingkungan dimana pilar-pilar kelembagaan tersebut direkonstruksi. Kondisi lingkungan dalam hal ini terkait dengan letak geografis, kultur dan potensi-potensi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Memaksimal peran sinergis governance structure dalam hal ini pemerintah daerah, pelaku usaha, media, dan masyarakat dan perguruan tinggi itu sendiri sesuai dengan posisi dan peran masing-masing sehingga tercipta iklim kondusif yang dapat memampukan perguruan tinggi untuk berdinamika dalam era rovolusi industri fase keempat Kata Kunci: Pendidikan Tinggi, Kelembagaan, Revolusi Industri 4.0 1. Pendahuluan Peradaban dunia bergerak secara bersama dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. Merujuk pada perkiraan yang dikemukakan oleh Alfin Toffler [1] seorang futurolog telah mengemukakan hadirnya gelombang ke tiga setelah agrikultur dan industri yaitu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi akan mewarnai corak kehidupan masyarakat di masa mendatang. Kondisi ini tentunya bukanlah lagi menjadi ramalan akan datangnya era baru pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tapi saat ini menjadi sebuah realitas yang tidak dapat dihindari lagi. Secara spesifik Klaus Schwab [2] dengan mengacu pada perkembangan industri kemudian menyandingkannya dengan kemajuan teknologi informasi sehingga melahirkan konsep revolusi industri fase keempat yang menekankan pada digitalisasi teknologi informasi dan komunikasi pada semua aktivitas kehidupan yang sebelumnya didahului oleh revolusi industri melalui penemuan mesin uap, kemudian pengaturan tata kerja melalui division of work dan penemuan listrik menandai era revolusi industri ke 2 serta revolusi industri ke 3 diwarnai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan proses produksi secara otomatis. Lebih lanjut Gilchrist [3] mengemukakan bahwa dasar dari revolusi industri keempat adalah ketersediaan semua informasi yang relevan secara real time. Pemanfaatan teknologi digital pada semua aspek kehidupan bermasyarakat memasuki hampir semua lini aktivitas yang mengatur tata kehidupan masyarakat