Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 13 Nomor 02 November 2014 ISSN 1412-7350 23 EKSTRAKSI POLISAKARIDA PADA BIJI TAMARIND (Tamarindus Indica L) Stefanuas Biondi Soebagio, Jaimito Salvador Soares, Nani Indraswati, Yohanes Kurniawan Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Jalan Kalijudan 37 Surabaya E-mail: naniindraswati@gmail.com ABSTRAK Tamarind, atau asam Jawa, Biasanya digunakan sebagai bumbu masakan, sedangkan bijinya dibuang. Pada biji tamarind terdapat kandungan polisakarida yang cukup besar, sekitar 50%-60% dalam keadaan masih basah. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh perbandingan solid/liquid dan waktu ekstraksi terhadap yield polisakarida dari biji tamarin. Biji tamarind yang sudah dibersihkan, dihancurkan menjadi serbuk, kemudian diekstrak dengan air panas dan air dingin dengan perbandingan 4:1. Endapan dan cairan dipisahkan, lalu ditambahkan ethanol (96%) sehingga diperoleh padatan polisakarida yang kemudian dikeringkan dalam oven vakum. Setelah kering polisakarida ditimbang untuk menentukan yield Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa yield tertinggi dari ekstraksi polisakarida dari biji tamarind pada 2 gram 25 menit adalah 24,34%. Kata kunci: biji tamarin, polisakarida, waktu, massa sampel, persen polisakarida, persen protein I. Pendahuluan Tamarind (Tamarindus Indica L), biasa dikenal sebagai asam Jawa. Biasanya tumbuhan ini tumbuh didaerah tropis, dengan batang pohon pendek dan besar, serta bunga yang kuning dan buah yang bewarna kecoklatan dengan buah yang berwarna kecoklatan. Tumbuhan ini banyak dijumpai di 50 negara sekitar Afrika dan di Asia Tenggara (seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia). Tumbuhan ini juga memiliki daun yang cukup lebat dan dapat bertahan hidup dalam keadaan yang sangat sulit (kekurangan air). khususnya di Indonesia, pohon tamarindd ini didapat di daerah Madura, Mojokerto, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Secara umum, daging buah tamarind digunakan sebagai bahan bumbu masakan, sedangkan bijinya merupakan limbah. Biji tamarind mempunyai bagian 30% dari buah tamarind keseluruhan. Pada biji tamarind terdapat kandungan polisakarida yang cukup besar, yaitu sekitar 50%-60%. Polisakarida merupakan polimer alami yang berasal dari tumbuhan. [1] Dari polimer alami biji tamarind tersebut mengandung D-Galactose, D-Xylose dan D-Glucose [2] . Limbah biji asam dapat dimanfaatkan dengan mengambil polisakarida yang terkandung di dalamnya. Untuk mendapatkan polisakarida digunakan cara ekstraksi dengan air. Polisakarida sangatlah penting bagi kebutuhan obat-obatan. Disamping itu polisakarida dari biji tamarind dapat digunakan sebagai stabilizer, pengental, dan gelling agent . [3] Selain itu, polisakarida dari biji tamarind juga dapat dipakai untuk formulasi obat yang bersifat sustained release, karena polisakarida dari biji tamarind bersifat non carcinogenic [1] . Polisakarida dapat pula digunakan pada industri tekstil yang berguna sebagai perekat atau penguat serat kain. Mengingat kebutuhan polisakarida sangatlah luas, limbah biji tamarindd dapat ditingkatkan nilai tambahnya dalam industri. Untuk menjawab hal tersebut, pada penelitian ini dilakukan ekstraksi polisakarida dari biji tamarind. II. Tujuan percobaan Dapat mempelajari pengaruh waktu dan perbandingan solid / liquid terhadap yield polisakarida pada proses extraksi polisakarida dari biji tamarind III. Tinjauan pustaka III.1. Tamarind (Tamarindus Indica L) Tamarind dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai biji asam. Asalnya dapat dipastikan, naun