Vol. 3, 2018
ISSN No. 2502-8782
Dipresentasikan pada Tanggal 24 November 2018 M - 23
Copyright © 2018 FT - UHAMKA. - All rights reserved
Integrasi Grafin Oksida Berbasis Larutan sebagai Material Penghantar
Lubang pada Sel Surya Hibrid Bulk-Heterojunction (BHJ)
Alfian F. Madsuha*, Nofrijon Sofyan, A.H. Yuwono
Department of Metallurgy and Materials Engineering, Universitas Indonesia, Kampus Baru UI, 16424 Depok, Indonesia
*Corresponding Author’s E-mail: alfian@eng.ui.ac.id
Abstrak - Dalam penelitian kali ini, telah didemonstarsikan penggunaan Grafin Oksida (GO) sebagai
material pengantar lubang pada sel surya hibrid Bulk-Heterojunction (BHJ). Sebuah metode sederhana
digunakan dalam memodifikasi anoda dari sel surya hibrid dengan cara mendeposisi material karbon
nano hasil proses larutan diantara kaca transparan indium timah oksida(ITO) dan lapisan fotoaktif.
Perngguanan GO ini ditujukan untuk mengganti secara keseluruhan polimer konduktif poly(3,4-
ethylenedioxythiophene) polystyrene sulfonate (PEDOT:PSS). Dengan penggunaan lapisan GO ini,
perbaikan efisiensi konversi energi dari 0,1% menjadi 1,66 % dapat dicapai melalu mekanisme
penurunan hambatan seri (R
S
). Dengan hasil ini GO telah berhasil menunjukkan potensial yang besar
untuk digunakan sebagai material pengantar lubang yang efisien pada sel surya hibrid
Kata kunci: Grafin, CdSe; Quantum Dots; Bulk heterojunction; Hybrid Solar Cells,
1 Pendahuluan
Pada divais sel surya tipe hibrid bulk hetero-junction, antar-
muka berupa lapisan penghantar lubang (HTL) yang terletak
di antara lapisan fotoaktif dan elektrode memiliki peranan
yang sangat penting dalam menentukan efisiensi dan
kestabilan.
Poly (3,4-ethylenedioxythiophene):poly(styrenesulfonate)
(PEDOT:PSS) merupakan material polimer konduktif yang
umum dipakai sebagai lapisan pengantar lubang berupa
larutan yang terdeposisi pada lapisan Indium Timah Oksida
(ITO), yaitu. Selain memodifikasi fungsi kerja (WF) lapisan
anoda sehingga mengurangi hambatan antara Highest
Occupied Molecul Orbital (HOMO) dan lapisan fotoaktif,
polimer ini akan memperhalus permukaan ITO
[1]
. Namun,
antar-muka ITO/PEDOT:PSS juga menjadi sumber
ketidakstabilan pada divais
[2-4]
. Beberapa sifat yang tidak
diinginkan dari PEDOT:PSS yaitu karakter higroskopi dan
asam, yang justru akan mengurangi kinerja polimer ini
sebagai HTL
[5, 6]
. Dalam hal ini, PEDOT yang bersifat
higroskopi dapat mengikat air ke dalam lapisan fotoaktif
ketika divais terekspos lingkungan yang lembap, sehingga
akan berakibat kepada degradasi
[7, 8]
. Ditambah lagi,
diketahui bahwa ITO sangat sensitif terhadap lingkungan
yang bersifat asam, sehingga asam kuat yang berasal dari
larutan PSS dari lapisan PEDOT:PSS bisa menimbulkan
korosi pada elektroda ITO
[9]
. Oleh karena itu, beberapa
usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini
diantaranya menggunakan material organik dan inorganik
yang dapat digunakan sebagai alternatif HTL, diantaranya
trifluoropropyltrichlorosilane (TFPS) dan semikonduktor
logam oksida NiO, MoO3 , V2O5 , WO3)
[10]
.
Pada perkembangan terbaru, sifat kondutifitas listrik,
optoelektronik yang dapat direkayasa, murah dan stabil
dalam lingkungan apapun menjadikan material grafin dan
turunannya telah menjadi kandidat HTL yang menjanjikan
pada sel surya organik (OSCs)
[11]
.
Sebagai contoh, lapisan grafin (ketebalan ∼10 nm)
yang didapatkan dari reduksi termal grafit oksida mampu
menunjukkan konduktivitas tinggi sekitar 550 S/cm dan
tranparansi lebih dari 70% pada rentang 1000 nm –3000 nm
[12]
. Beberapa kelebihan grafin oksida jika dibandingkan
PEDOT:PSS ketika digunakan sebagaian HTL diantaranya,
tidak mengkorosi ITO, rekayasa tingkat energi yang lebih
mudah sehingga ekstraksi lubang menjadi efisien, dan
tingkat transparan yang tinggi. Celah pita yang besar dari GO
akan mencegah elektron mengalir ke anoda, sehingga akan
menguarangi rekombinasi
[10]
.
Li et al. pertama kali melaporkan penggunaan GO
sebagai pengganti PEDOT:PSS untuk aplikasi HTL pada
OSC
[13]
. Sejak itu penggunaan GO sebagai aplikasi HTL
pada OSC menjadi umum. Namun, sejauh ini penulis belum
menemukan pendekatan yang sama pada sel surya hibrid.
Salah satu kelamahan GO HTL berbasis larutan adalah
sifatnya yang kurang konduktif, menagkibtakan tingginya
resistan seri, rendahnyanya fill factor dan berakhir kepada
efisiensi (PCE) yang rendah
[14]
. Hal ini disebabkan proses
sistesis kimia basah GO yang menggunakan asam kuat,
menghasilkan gugus epoksi dan hidroksil pada permukaan
GO, yang mengacaukan susunan sp
2
yang konduktif,
sehingga GO bersifat insulator
[15]
.
Untuk merestorasi sifat konduktif, produk GO yang
disintesi harus direduksi, menghilangkan gugus fungsional
oksigen, selain itu reduksi ini akan mengubah fungsi kerja
GO itu sendiri [16]. Penelitian ini termovivasi untuk