60 Jurnal Kajian Pembelajaran Matematika VOLUME 5, NOMOR 1, APRIL 2021 ISSN: 2549 – 8584 (online). http://journal2.um.ac.id/index.php/jkpm PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN SISWA PADA MATERI PELUANG DI SMA KELAS XII Yusma Riza Zulaicha 1 , Makbul Muksar 2 , A.R. As’ari 3 Universitas Negeri Malang Email : yusmarizazulaicha@yahoo.com, makbul.muksar.fmipa@um.ac.id, abdur.rahman.fmipa@um.ac.id Abstract This research is intended to develop a valid, practical, and effective mathematical learning device based on a scientific approach to improve students' reasoning on the opportunity material in class XII SMA. The development model used in this research is the Dick and Carey model. Learning tools developed in the form of lesson plans and worksheets. RPP and worksheets are prepared by referring to the scientific approach which contains 5M (observing, asking questions, gathering information, reasoning, communicating). The worksheets that are compiled also contain the steps of the Polya's model of reasoning, namely: 1) observation of a problem, 2) formulation of allegations of the problem, 3) generalization, and 4) verification of allegations using new problems. This research has produced learning tools that are valid, practical, and effective. Keywords: saintific approach, Polva model, Dick and Carey model, probability Submited:Desember 2020, Published:April 2021 PENDAHULUAN Dalam proses pembelajaran, peserta didik diharapkan melakukan aktivitas sense-making (penggunaan akal) dalam memahami setiap konsep dan permasalahan yang diberikan sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Menurut Stylianides A. & Stylianides G. (2006), mengerjakan dan memahami merupakan aktivitas penggunaan akal yang dikategorikan sebagai pembelajaran bermakna. Aktivitas penggunaan akal tersebut dikenal sebagai penalaran. Umay (dalam Gunhan, 2014) mendefinisikan penalaran sebagai keterampilan yang menunjukkan tingkat berpikir yang tinggi. Sementara itu, NCTM (2000) mengemukakan bahwa keterampilan bernalar merupakan komponen penting dalam pendidikan yang diperlukan untuk memahami matematika secara khusus dan menyajikan arti penting dalam mengembangkan ide. Pendapat lain mengatakan bahwa penalaran adalah proses yang memungkinkan untuk meninjau kembali gagasan dan dapat memicu rekontruksi pengetahuan sebelumnya dalam rangka untuk membangun argumen baru (Davis, 1992). Sedangkan seseorang yang bernalar dan berpikir analitis cenderung memperhatikan pola, struktur, atau keteraturan dalam dunia nyata dan objek- objek simbolis; dan mereka bertanya apakah pola-pola tersebut kebetulan atau terjadi karena suatu alasan tertentu; kemudian mereka menduga dan membuktikan (NCTM, 2000). Dengan bernalar, peserta didik diharapkan dapat membangun pengetahuan baru dan memahami konsep yang diberikan. Hal ini didukung oleh NCTM (2000) yang menyatakan bahwa menggunakan penalaran merupakan hal yang penting karena dapat membangun pengetahuan baru yang mendalam dan menawarkan pembelajaran lebih jauh. Mueller dan Yankelewitz (2014) menambahkan bahwa penalaran tidak hanya penting untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam matematika, tetapi juga dapat mengaitkan pengetahuan matematika dengan bidang lainnya. Oleh karena itu, penalaran merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh siswa karena dapat membantu mereka untuk memahami konsep secara mendalam sehingga dapat bertahan lama dalam ingatan. Penalaran dapat dibedakan menjadi penalaran deduktif dan penalaran induktif. Menurut Ayalon dan Even (2010), penalaran deduktif adalah proses penarikan kesimpulan dari informasi (premis) yang diketahui dengan menggunakan aturan logika formal, dimana kesimpulan-kesimpulan cukup diturunkan dari informasi yang diberikan dan tidak memerlukan percobaan-percobaan untuk memvalidasinya. Sedangkan menurut Neubert dan Binko, penalaran induktif merupakan proses yang dibangun dari kasus khusus sehingga diperoleh informasi yang lebih umum (dalam Canadas, Castro, & Castro: 2009). Menurut Polya (dalam Canadas, Castro, & Castro: 2009) terdapat empat langkah dalam mendeskripsikan penalaran induktif yaitu pengamatan terhadap suatu permasalahan, perumusan dugaan dari permasalahan tersebut, generalisasi, dan verifikasi dugaan menggunakan permasalahan baru. Penalaran induktif ini lebih sesuai digunakan oleh siswa SMA karena