A.2 Prosiding SNST ke-10 Tahun 2019 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim 5 EKSTRAKSI GALAKTOMANAN DARI AMPAS KELAPA SEBAGAI BAHAN BAKU BIOPLASTIK Nofita Sari * , Maudy Mairisya dan Riska Kurniasari Program Studi Teknik Kimia, Politeknik Katolik Mangunwijaya Jl. Sriwijaya 104 Semarang * Email : nofitasari2213@yahoo.com Abstrak Galaktomanan merupakan polimer organik yang mengandung unit mannopironisa dengan ikatan beta-(1-4) dan unit galaktopiranosa dengan ikatan alfa-(1-6). Limbah ampas kelapa mengandung galaktomanan sebesar 61% sehingga memiliki prospek menarik untuk digunakan sebagai bahan baku bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi optimum proses ekstraksi galaktomanan dari ampas kelapa. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ukuran partikel ampas kelapa (80 mesh dan 100 mesh) dan jumlah pelarut (250 ml, 300 ml, 350 ml). Sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah rendemen galaktomanan. Tahap penelitian diawali dengan persiapan bahan baku berupa ampas kelapa yang dikeringkan dan dihaluskan hingga ukuran tertentu sesuai variabel yang telah ditetapkan. Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah proses ekstraksi dengan menggunakan aquades yang dimasukkan ke dalam ekstraktor dan dipanaskan hingga suhu 50°C. Setelah mencapai suhu 50°C, ampas kelapa dimasukkan ke dalam ekstraktor dan diekstraksi pada suhu 50°C selama 5 jam. Larutan hasil ekstraksi yang telah disaring ditambahkan metanol sebagai agen pengendap untuk membentuk dua lapisan. Setelah membentuk dua lapisan dilakukan pemisahan menggunakan corong pisah, kemudian galaktomanan dikeringkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa serbuk ampas kelapa 100 mesh merupakan kondisi terbaik dengan rendemen sebesar 3,30% dan volume pelarut air 350 ml merupakan kondisi terbaik dengan rendemen sebesar 3,82%. Kata kunci: ampas kelapa, ekstraksi, galaktomanan 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Plastik yang beredar di pasaran saat ini merupakan plastik sintetik yang terbuat dari bahan kimia hasil dari pengolahan minyak bumi. Bahan kimia tersebut merupakan bahan tak terbaharukan dan tidak ramah lingkungan karena tidak dapat diurai secara alami (Cheng et al, 2009). Pada tahun 2020, akan diprediksikan bahwa sampah di Indonesia akan mencapai 2,1 kg per orang pada setiap harinya, 15% dari sampah tersebut adalah sampah plastik (Norma, 2012). Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk di Indosesia pada tahun 2020 akan mencapai sekitar 270 juta jiwa, sehingga diprediksi akan terdapat tumpukan sampah sebanyak 567 ribu ton dan 15% dari sampah tersebut adalah sampah plastik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka harus diciptakan plastik yang ramah lingkungan (bioplastik). Bioplastik merupakan plastik yang dibuat dari bahan baku alami. Bioplastik dapat diuraikan oleh mikroorganisme dalam waktu singkat, sehingga lebih ramah lingkungan bila dibandingkan dengan plastik sintetik. Bahan alami yang menguntungkan dalam pembuatan bioplastik adalah bahan alami yang berupa limbah seperti ampas kelapa. Potensi ampas kelapa dapat mencapai 34- 42% dari keseluruhan buah kelapa. Kandungan senyawa di dalam ampas kelapa kering (bebas lemak) adalah 61% galaktomanan, 26% mannose dan 13% selulosa (Rindengan, 2015). Selama ini keberadaan ampas kelapa hanya sebagai limbah yang belum termanfaatkan secara optimal. Kandungan senyawa kimia potensial galaktomanan dapat diaplikasikan menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi, yaitu bioplastik. Galaktomanan merupakan polimer organik yang mengandung unit mannopironisa dengan ikatan beta-(1-4) dan unit galaktopiranosa dengan ikatan alfa-(1-6). Untuk mendapatkan galaktomanan yang terkandung dalam ampas kelapa dapat dilakukan dengan metode ekstraksi. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda. Galaktomanan yang terkandung dalam ampas kelapa dapat larut dalam air. Dalam metode ekstraksi ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi,