Uji Ketahanan 100 Jam Mesin Genset 27 KW Menggunakan Coco-Diesel Rizqon Fajar, Ihwan Haryono, dan Misbah Kuddin Balai Termodinamika Motor dan Sistem Propulsi (BTMP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang-Banten, 15314 Telp: 021-7560538, Fax: 021-7560539. E-mail: rizqon@btmp-bppt.net ABSTRACT: Durability Test of Small Diesel Engine 27 KW Using Coco-Diesel Today, government is concern on using vegetable oil as alternative fuel which is environment friendly. Biofuel should be transformed to ester compound before used on diesel engines. It is caused that ester has similar physical properties comparing to the mineral oil (solar). This paper presents a durability test results on a diesel engine which used ester compound from coconut diesel (coco methyl ester. The test was done for 100 hours. The engine test used was a single cylinder Mitsubishi with capacity 27 HP. The engine was coupled by generator electricity. During durability test the generator was loaded by heaters 10 KW. Fuel consumption, opacity, exhausts gas temperature andoil condition was checked at 0, 50 and 100 hours. Keywords: coco-diesel, specificfuel consumption, opacity, viscosity PENDAHULUAN Di daerah-daerah terpencil di Indonesia {remote area), harga bahan bakar minyak dapat mencapai Rp. 10.000. Hal ini sangat memberatkan ekonomi rakyat dan industri di daerah tersebut. Indonesia memiliki daerah pantai yang sangat panjang dimana pohon kelapa tumbuh memiliki potensi untuk mengembangkan bahan bakar alternatif dari minyak kelapa yaitu coco-diesel. Penggunaan coco-diesel di daerah remote area diharapkan juga dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Unjuk kerja coco-diesel (coco methyl ester) pada mesin belum banyak diketahui dibandingkan biodiesel dari minyak sawit. Namun secara umum unjuk kerjanya tidak akan berbeda dibandingkan biodiesel sawit. Kandungan emisi gas buang CO, HC dan partikulat akan Iebih rendah dibanding minyak diesel petroleum (solar), sedangkan kandungan emisi NOx bisa lebih tinggi atau sama dengan solar tergantung dari tipe/penyetelan mesin diesel. Karena kandungan rantai rangkap dalam minyak kelapa coco lebih rendah dibanding minyak sawit (Bilangan iodine coco=8-lQ dan sawit=44-58) maka emisi NOx cocodiesel bisa lebih rendah dibanding biodiesel sawit[l]. Bilangan setana coco-diesel dilaporkan sebesar 63[2] dan 70[3] sedangkan biodiesel sawit adalah 50-70 dan 65. Kandungan kalori coco- diesel (35,3 MJ/Kg) sedikit lebih rendah dibandingkan biodiesel sawit (37 MJ/Kg) (Mittelbach, 2004) sehingga unjuk kerja (power dan torsi) dan emisi dari kedua jenis biodiesel diperkirakan tidak ada perbedan yang signifikan[4]. Keunggulan dari coco-diesel adalah bilangan iodine yang lebih rendah dibandingkan biodiesel sawit. Rendahnya bilangan iodine menunjukkan rendahnya Kontak Person: Rizqon Fajar Balai Termodinamika Motor dan Sistem Propulsi (BTMP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) KawasanPUSPIPTEK Serpong Tangerang-Banten, 15314Telp: 021-7560538, Fax: 021-7560539,E-mail: rizqon@btmp-bppt.net kandungan ikatan rangkap/tak jenuh dalam coco-diesel. Hal ini akan mengurangi resiko terjadinya serangan oksigen dari udara yang dapat menyebabkan reaksi oksidasi selanjutnya polimerisasi membentuk padatan/ deposit[5]. Padatan tersebut akan terbentuk pada saluran dan sistem injeksi bahan bakar. Kondisi ruang bakar yang lebih ekstrem (temperatur tinggi) akan mempercepat/meningkatkan terbentuknya deposit dan dapat merusak mesin dengan cepat. Keuntungan lain dari rendahnya kandungan rantai tak jenuh adalah mengurangi resiko kerusakan (oksidasi dan polimerisasi) pelumas mesin, sehingga umur pelumas akan lebih panjang[6]. Hipotesa tentang coco-diesel tersebut di atas akan dibuktikan dari hasil pengujian pada mesin diesel berikut. Pengujian ketahanan selama 100 jam merupakan hasil kerjasama antara Balai Besar Kimia dan Kemasan Deperin (BBKK) dengan Balai Termodinamika Motor dan Sistem Propulsi BPPT (BTMP). Dalam kerjasama ini BBKK bertanggung jawab dalam penyediaan (pembuatan) coco-diesel beserta kualitasnya. Sedangkan BTMP merancang sistem, prosedur pengujian pada mesin dan evaluasi hasil pengujian. Kualitas coco-diesel diupayakan sedapat mungkin memenuhi standar kualitas biodiesel yang telah dikeluarkan oleh BSN (Maret 2006). Untuk itu beberapa parameter kualitas biodiesel dicek dan digunakan untuk mengevaluasi unjuk verja dan pelumasan setelah dilakukan 100 jam pengujian. METODOLOGI Bahan Dan Per alatan Uji Persiapan Bahan Bakar dan Pelumas Coco-diesel disiapkan oleh BBKK dan diuji karakteristiknya seperti viskositas, densitas, titik nyala dsb. Pengujian dilakukan menggunakan standar (ASTM). Hasil pengujian karakteristik dapat dilihat pada Tabel 1 dan dibandingkan dengan standar biodiesel nasional. Bahan bakar yang digunakan selam uji Uji ketahanan 100jam mesin genset 27 kw menggunakancoco-diesel {Rizqon dkk) 129