Lilik Sulastri Sekolah Tinggi Teknologi Industri Dan Farmasi Bogor 64 POTENSI KOMBINASI EKSTRAK DAUN STEVIA (Stevia Rebaudiana Bertoni) DAN DAUN YAKON (Smallanthus Sonchifolius (Poepp.) H.Rob.) SEBAGAI INHIBITOR ENZIM α-GLUKOSIDASE Lilik Sulastri * , Tuty Alawiyah, Achmad Fauzi Isa Sekolah Tinggi Teknologi Industri Dan Farmasi Bogor Jl. Kumbang 23 Bogor 16151 * Corresponding Author, email: liliksulastri28@gmail.com ABSTRAK Diabetes melitus adalah salah satu penyakit metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah yang tinggi atau di atas nilai normal. Salah satu pengobatan yang dapat digunakan pada diabetes melitus adalah dengan menghambat aktivitas enzim α-glukosidase. Secara empiris tumbuhan obat Indonesia yang telah digunakan untuk menurunkan kadar glukosa darah adalah daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) dan daun yakon (Smallanthus sonchifolius (Poepp.) H.Rob.). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas penghambatan enzim - glukosidase ekstrak etanol 96% daun stevia dan daun yakon serta kombinasinya. Daun stevia dan yakon secara terpisah dimaserasi secara bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, etanol 96% dan air. Ekstrak yang diperoleh (n-heksan, etilasetat, etanol dan air) diuji aktivitas penghambatan enzim -glukosidase. Ekstrak terbaik dari kedua tanaman dikombinasikan sampai diperoleh nilai IC 50 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penghambatan enzim - glukosidase terbaik terdapat pada kedua ekstrak etanol 96% yaitu sebesar 69% dan 64,5% dengan IC 50 berturut-turut 68,07 ppm dan 18,84 ppm. Kombinasi ekstrak terbaik diperoleh pada perbandingan ekstrak EtOH 96% stevia dan yakon adalah 1:1 dengan nilai IC 50 sebesar 14,48 ppm, dengan akarbose sebagai kontrol (+) sebesar 17,72 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang sinergis antara senyawa kimia yang terkandung dalam stevia dan yakon. Kata kunci: Diabetes; Enzim -glukosidase, Stevia rebaudiana Bertoni, Smallanthus sonchifolius (Poepp.) H.Rob. PENDAHULUAN Diabetes melitus (DM) adalah penyakit endokrin yang paling umum diseluruh dunia. Dewasa ini sekitar 173 juta orang menderita diabetes, jumlah penderita diabetes melitus akan meningkat beberapa tahun ke depan dan pada tahun 2030 diperkirakan mencapai total 366 juta orang. Pada tahun 2000, Indonesia berada di peringkat nomor empat terbesar orang dengan DM, setelah India, Cina, dan Amerika Serikat, yaitu sekitar 8,4 jutaan orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (WHO, 2004). Menurut WHO diabetes melitus sendiri dibagi menjadi tipe 1 dan tipe 2. Diabetes Tipe 1 meliputi kasus yang dapat dikaitkan dengan proses autoimun dan/atau dengan kerusakan sel yang patogenesisnya belum diketahui. Tipe 2 termasuk bentuk utama diabetes umum yang disebabkan dari cacatnya dalam sekresi insulin atau lebih tepatnya resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin (Gao & Qiao, 2012). Upaya pengobatan diabetes melitus dapat diobati dengan injeksi insulin atau dengan obat antidiabetes oral seperti akarbose yang banyak digunakan dalam pengobatan klinis di indonesia. Pengobatan dengan bahan kimia ini bertujuan mengambil alih materi yang tak diperoleh tubuh akan memperlambat penguraian karbohidrat, namun dalam jangka lama pengobatan ini dapat menimbulkan efek samping seperti hipoglikemia, flatulensi, mual, diare, ikterus, hepatitis, perut kembung dan nyeri (BADAN POM RI, 2008). Salah satu bahan alam yang dapat menginhibisi enzim -glukosidase adalah daun stevia (Stevia rebaudiana). Dalam penelitian ekstrak daun stevia yang diberikan pada tikus yang diinduksi steptrozotosin aktivitas antihiperglikemik ekstrak daun stevia serbuk yang diamati setelah pemberian oral dengan dosis 4 g/kg BB selama 3 minggu dapat menurunkan kadar glukosa darah