1 BINA TEKNIKA, Volume 17 Nomor 1, Edisi Juni 2021, 1-8 PEMBUATAN BATUBATA DENGAN BAHAN BAKU LUMPUR SIDOARJO Endang Srihari Mochni *, Arief Budhyantoro Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Surabaya *Corresponding email: esriharimochni@yahoo.com Abstract Many attempts to reduce the volume of Sidoarjo mudflow that came out, one of which is the use of Sidoarjo mud for making bricks. The results of research in the chemical laboratory show that the Sidoarjo mud mineral content is mostly silica and alumina minerals, so it is very supportive for use as a material for making bricks. Making bricks requires mixed materials, one of which is paper sludge. Paper sludge waste is discharged from the paper industry, which can pollute the environment if it is discharged directly into the environment. Therefore, a solution is needed by utilizing the potential of the sludge waste. One of them is by using paper sludge as an additive in making bricks, because most of the components of paper sludge waste are calcium carbonate. In building materials, calcium carbonate can function as an additive so that paper sludge waste can be used as an additional material in making bricks. The purpose of this study is to determine the best ratio of Sidoarjo mud with paper sludge to the quality of the bricks, find out the best combustion temperature to the quality of the bricks produced, and compare the quality of the bricks before and after burning. The bricks are synthesized with a variation of the ratio of Sidoarjo mud raw material and paper sludge (1: 0, 1: 1, 2: 1, 3: 1) and variations in combustion temperature (no combustion, 400°C, 450°C, 500°C, 750°C, 900°C). In this study, the best quality of bricks according to SNI is 2: 1 ratio bricks with a combustion temperature of 750 ° C. The ratio of 2: 1 brick with a combustion temperature of 750°C has a percentage of water absorption of 17.17% and compressive strength of 37.78 kg / cm 2 Keywords: bricks, Sidoarjo mud, paper sludge PENDAHULUAN Bencana lumpur Sidoarjo adalah bencana skala nasional. Hingga kini, semburan lumpur masih kuat, pertama kali terdapat semburan yang keluar selain adanya lumpur 70% dan 30% air, tetapi saat ini kondisi menjadi terbalik yaitu 70% air dan 30% lumpur sedangkan gas sudah relatif kecil atau dapat dikatakan tidak ada. Dampak dari semburan lumpur ini sangat berpengaruh bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonimian Jawa Timur (Elmaghfira, 2017) Banyaknya upaya untuk mengurangi volume semburan lumpur Sidoarjo yang keluar, salah satunya diperlukan upaya pemanfaatan lumpur hasil semburan untuk memberikan nilai produktif pada daerah sekitar semburan lumpur. Berdasarkan diagram Winkler, lumpur Sidoarjo diklasifikasikan berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai batubata, keramik dan bahan bangunan lainnya (Triwulan, 2006). Hasil penelitian di Laboratorium Mekanika Tanah Politeknik Negeri Malang juga menunjukkan kalau lumpur Sidoarjo mengandung 22,13 % lanau, 19,40% pasir dan 58,47% lempung. Dari hasil penelitian tersebut maka lumpur Sidoarjo termasuk jenis tanah lempung yang menghasilkan sifat-sifat plastis pada tanah. Sifat plastis dan mudah dicetak ini sangat memudahkan dalam proses pembuatan. Pembuatan batubata ini diperlukan bahan campuran seperti pasir, serbuk kayu, dan abu sekam padi. Dalam penelitian kami akan menambahkan paper sludge untuk pembuatan batubata. Limbah paper sludge merupakan buangan dari pabrik industri kertas, dimana dapat mencemari lingkungan bila langsung dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan solusi dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki limbah paper sludge tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan paper sludge sebagai bahan additive dalam pembuatan batubata, karena sebagian besar komponen limbah paper sludge yaitu kalsium karbonat sekitar 60% selain bahan organik. Di dalam bahan bangunan, kalsium karbonat dapat berfungsi sebagai bahan additive sehingga limbah paper sludge dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan batubata. Penambahan paper sludge dapat mempengaruhi kandungan bahan organik, bobot isi, dan pembentukan stabilitasi agregat. (Henggar, 2009).