HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN INTENSI PERILAKU ORGANISASIONAL DEVIAN PADA ANGGOTA KEPOLISIAN RESERSE KRIMINAL DI DIT RESKRIM POLDA JAWA TENGAH Iin Novita Putri, Harlina Nurtjahjanti, Prasetyo Budi Widodo Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro ABSTRAK Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan intensi POD pada anggota kepolisian reserse kriminal.Penelitian ini menggunakan 57 reserse sebagai subjek penelitian dengan karakteristik merupakan anggota Dit Reskrim Polda Jateng dan memegang jabatan sebagai bintara pelaksana. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proportional random sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua buah skala, yaitu skala intensi POD dan skala kontrol diri. Hasil analisis dengan metode analisis regresi sedehana mendapatkan rxy = -0,589 dengan p= 0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat hubungan negatif dan signifikan antara intensi POD dan skala kontrol diri. Arah hubungan negatif antara kedua variabel tersebut artinya semakin tinggi kontrol diri anggota reskrim maka intensi POD akan semakin rendah dan sebaliknya. Kontrol diri memberikan sumbangan efektif sebesar 34,7 % terhadap intensi POD. Hasil tesebut mengindikasikan bahwa ada faktor lain sebesar 65,3 % yang juga turut berperan mempengaruhi intensi POD yang tidak diungkap dalam penelitian ini. Kata Kunci : Intensi POD, kontrol diri, polisi reserse kriminal PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Aspek sumber daya manusia (SDM) memegang peranan yang sangat penting dan paling dominan dalam sebuah organisasi.Polri merupakan suatu organisasi publik dengan lingkungan kerja yang dinamis. Polri mempunyai tugas memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum. Polri juga bertugas menjaga keamanan di dalam negeri dan bertindak sebagai aparat penegak hukum. Semenjak memisahkan diri dengan TNI dalam wadah ABRI, Polri semakin dituntut keprofesionalan dalam pelaksanaan tugasnya. Image Polri akan sangat mudah terlihat mengingat lingkup tugasnya yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan segala bentuk permasalahannya (Khoidin dan Sadjijono, 2006). Schultz dan Schultz (2002); Brown dan Campbell (1994) mengemukakan bahwa polisi merupakan salah satu tipe pekerjaan yang penuh dengan tekanan. Spector (2006) mengatakan bahwa kondisi penuh tekanan dan ketidakadilan mempengaruhi emosi negatif