BAHASTRA Vol. 41 No. 1 Tahun 2021 | 84 90 DOI: http://dx.doi.org/10.26555/bahastra.v41i1.19941 email: bahastra@pbsi.uad.ac.id UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN BAHASTRA http://journal.uad.ac.id/index.php/BAHASTRA Male superiority and female resistance in Indonesian fairytales themed Seven Nymphs Ryan Hidayat a, 1* , Fauzi Rahman b, 2 , Denik Wirawati c, 3 , Muhammad Sega Sufia Purnama d, 4 a, d Arsitektur, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Indraprasta PGRI b Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Indraprasta PGRI c Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Ahmad Dahlan 1 ryansastra3@gmail.com*; fauzierachman20@yahoo.com; denik@pbsi.uad.ac.id; ages125@gmail.com *korespondensi penulis Article’s information ABSTRAK History: Submitted Revised Published : 6 Februari 2021 : 26 Maret 2021 : 30 April 2021 Kisah Tujuh Bidadari yang tersebar di Indonesia mengandung banyak kesamaan mulai dari pengenalan cerita, konflik, puncak konflik, dan penyelesaian. Kisah tujuh bidadari selalu menggambarkan mereka tidak berdaya di hadapan manusia ketika selendang mereka dicuri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana superioritas dan ketahanan laki-laki yang direpresentasikan dalam cerita rakyat bertema tujuh bidadari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi dengan teknik sastra komparatif dan sosiologis. Data diambil dari cerita berjudul Jaka Tarub, Telaga Bidadari, Arya Menak, Raja Omas, dan Mahligai Keloyang. Ceritanya memiliki alur yang mirip, tetapi berasal dari daerah yang berbeda. Hasil penelitian dan analisis menunjukkan bahwa keunggulan laki- laki mulai terlihat dari aksi-aksi dalam cerita yang mengambil selendang (sayap) bidadari. Dengan kejadian tersebut, sosok peri yang diceritakan dalam semua data penelitian digambarkan tidak memiliki kekuatan untuk melawan, sehingga tanpa pilihan lain, mereka harus rela menjadi istri dari seorang pria yang mencuri selendang mereka. Namun, pada wanita (bidadari), terdapat potensi kekuatan dan ketahanan dalam menghadapi kehidupan barunya di dunia. Semua pria yang berniat menikahi bidadari dalam cerita dibuat tak berdaya dan menuruti segala macam syarat dan larangan yang diajukan oleh nimfa jika ingin menikahi mereka. Akhirnya dalam analisisnya, keseluruhan cerita berakhir dengan perpisahan antara laki-laki dan istrinya (bidadari) karena kesepakatan di awal dilanggar oleh tokoh laki-laki. Kata kunci: Ketahanan laki-laki Resistensi Wanita Dongen Indonesia Bidadari Sastra Komperatif ABSTRACT Key word: Male superiority women resistance Indonesian fairytales nymph comparative literature Story of Seven Nymphs spread in Indonesia implies many similarities starting from the introduction of stories, conflicts, the peak of conflict, and settlement. Story of seven nymphs always describes them as helpless before men when their shawls stolen. The aim of this study is to show how male superiority and resistance of women represented in folklore stories themed seven nymphs. The method used in this study is the content analysis method with comparative literature and sociological literature technique. The data taken from story titled Jaka Tarub, Telaga Bidadari, Arya Menak, Raja Omas, and Mahligai Keloyang. The story have similar lines, but comes from different regions. The results of the research and analysis show that the superiority of men has begun to seen from the actions in the story that took the nymph’s shawl (wings). With that event, the nymphs figure told in all research data described as having no power to fight, so that without other choices, they must be willing to be the wife of a man who stole their shawl. However, in women (nymphs), there is the potential for strength and endurance in facing their new life in the world. All men who intend to marry nymphs in the story made helpless and obey all kinds of conditions and restrictions proposed by the nymphs if they want to marry them. Finally, in the analysis, the overall story ends in the separation between the man and his wife (the nymphs) because the agreement at the beginning violated by the male character. Copyright © 2018 Universitas Ahmad Dahlan. All Right Reserved