* Alamat : Fakultas Sains dan Teknologi UNISNU Jepara Email : zainularifin@unisnu.ac.id . BUDAYA RUPA MOTIF UKIR MASJID MANTINGAN PADA MEBEL UKIR JEPARA Zainul Arifin MA 1 * ,Jati Widagdo 2 * , dan Fivin Bagus SP. 3 * Fakultas Sains dan Teknologi UNISNU Jepara Info Artikel Abstrak Sejarah Artikel: Diterima Maret 2020 Disetujui Mei 2020 Dipublikasi Juli 2020 Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap budaya rupa motif ukir pada masjid Mantingan Jepara terhadap pengaruh perkembangan motif ukir Jepara di mana motifnya dipengaruhi oleh budaya Hindu, Islam dan China. Motif Ukir di masjid Mantingan dianggap mewakili motif ukir tradisional yang ada di Jepara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan pendekatan studi lapangan melalui survei dan wawancara. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa data model interaktif yang terdiri dari empat tahap, yaitu (1) pengumpulan data’ (2) reduksi data; (3) analisa data; (4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh pada penciptaan motif di masjid Mantingan yaitu Pangeran Hadlirin, Ratu Kalinyamat, dan Sungging Badar Duwung, sedangkan karakteristik motif ukir yang terdapat pada masjid Mantingan Jepara merupakan hasil stilasi dari bentuk-bentuk alam yaitu teratai, kelapa, pohon hayat, kuda, kera, burung phonix, merak, kelelawar, gunung, dan bentuk-bentuk geometri yang berupa perpaduan ortogonal, lingkaran, kubus, segi enam dengan flora. Motif ukir yang diterapkan pada mebel kayu Jepara banyak yang mengadopsi dari motif ukir di masjid Mantingan yang merupakan cikal bakal perkembangan seni ukir di Jepara. Dalam perkembangan motif ukir dapat dipengaruhi fungsinya sebagai fungsi estetis, simbolis, sosial, finansial, aktif atau konstruktif, pasif, identitas kota, dan membangun identitas sebagai kota ukir. Kata Kunci: budaya rupa, motif ukir, Masjid Mantingan, mebel PENDAHULUAN Masjid Mantingan Jepara sebagai artefak kebudayaan sangatlah penting, karena sebagai peninggalan budaya baik pada segi arsitekturnya maupun unsur dekoratif yang memenuhi dinding masjid. Dekorasi tersebut berupa motif ukir yang terbuat dari batu putih terukir 3 dimensi yang dapat dilihat dari sisi bentuk motif dan maknanya. Berdasarkan pada perspektif budaya, bentuk dan corak ungkapan kesenian tidak semata hanya untuk pemenuhan keindahannya saja, melainkan juga terkait secara menyeluruh dengan pemenuhan lainnya. Dengan kata lain, hiasan pada Masjid Mantingan dipandang sebagai salah satu cara pemuasan akan keindahan yang keberadaannya dipenuhi beragam simbolik elemen hias. Dengan bahan batu putih, motif ukir yang menempel di dinding masjid Mantingan sebagai unsur dekoratif sangat menarik untuk dikaji terkait dengan keberadaan, wujud material motif ukirnya dan pengaruh yang ditimbulkan dengan adanya motif ukir tersebut. Secara rinci dikemukan oleh Soedarso SP, bahwa cabang seni kriya merupakan penghasil seni terapan yang kecil–kecil (tidak seperti rumah) misalnya kursi ukir, wayang kulit, jambangan bunga dan sebangsanya (Soedarso, 1990: 15). Sementara Gustami (1991: 100-101). mengemukakan bahwa, kriya merupakan karya seni dan karakteristik di dalamnya mengandung muatan nilai yang mantap dan mendalam menyangkut nilai estetik, simbolik, filosofis, dan fungsional, yang dalam perwujudannya Jurnal Imajinasi Vol XIV No 2, Juli-Desember 2020 Jurnal Imajinasi http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/imajinasi