284 PELATIHAN RESPEK STOP BULLYING DI SEKOLAH UNTUK GENERASI BERPRESTASI Mario Fahmi Syahrial 1 , Yosia Dian Purnama W 2 1,2 Universitas PGRI Ronggolawe Tuban mariofahmi@unirow.ac.id 1 , dianyosia@gmail.com 2 ABSTRAK Siswa merupakan salah satu penerus harapan bangsa pada masa depan dalam pembangunan peradaban masyarakat. Pendidikan sangat diperlukan supaya dapat menentukan prestasi dan produktifitas siswa tersebut. Namun, banyak masalah yang berlaku pada tahapan pendidikan siswa jika tidak dianggap penting. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat adalah melakukan pemahaman tentang pentingnya melakukan penghentian tindakan bullying sejak dini dan himbauan untuk tidak melakukan tindakan bullying diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga dapat menciptakan generasi yang berprestasi di masa mendatang, dan juga memberikan pengetahuan baru bahwa bullying sebenarnya melanggar Undang-Undang Dasar 1945 yang pada zaman sekarang perlu diberikan pemahaman lebih mendalam. Pemahaman siswa terhadap berbagai bentuk bullying masih kurang, dan peserta mendapatkan pencerahan mengenai pengetahuan ini. Disadari pula bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan atas orang lain lebih sering melakukan bullying tanpa disadari, karena perilaku bullying selama ini dianggap sesuatu yang lumrah. Pelatihan respek stop bullying di sekolah untuk generasi berprestasi yang dilaksanakan bagi siswa di SMK Darul Ma’Wa Plumpang, dapat menanamkan sikap dan per ilaku respect pada peserta pelatihan. Mengenalkan berbagai bentuk bullying dan implementasi di lapangan dalam bentuk melakukan pengamatan terjadinya bullying di sekolah mengasah sensitivitas siswa. Kata Kunci : Respek ; Stop Bullying;Generasi Berprestasi; Latar Belakang Secara umum, tingkah laku bullying ini berawal dari masalah yang dialami oleh pelaku. Kemampuan pemecahan masalah yang kurang bisa membuat anak mencari jalan keluar yang salah, termasuk dalam bentuk bullying ini. Salah satu bullying adalah bentuk penindasan. Penindasan sendiri bisa dengan atau tanpa kekerasan. Bullying adalah perilaku yang diulangi dari waktu ke waktu yang secara nyata melibatkan ketidak-seimbangan kekuasaan, yang lebih kuat menyerang kelompok anak- anak atau mereka yang kurang kuat. Bullying dapat berupa pelecehan lisan atau penyerangan fisik, atau cara lain yang lebih halus, seperti paksaan dan manipulasi. [3] (Heddy Shri Ahimsa-Putra. 2001) Bullying biasanya dilakukan untuk memaksa orang lain dengan rasa takut dan ancaman. Bullying dapat dicegah jika anak-anak diajarkan keterampilan sosial agar mampu berinteraksi dengan orang- orang. Hal ini akan membantu mereka untuk menjadi orang dewasa produktif, ketika berinteraksi dengan orang-orang yang mengganggu. Bullying dapat terjadi karena salah paham, tindakan semacam ini kadang dianggap sesuatu yang wajar, tanpa ada yang menyadari dampak jangka panjang yang ditimbulkan baik pada korban juga pelaku bullying . Bullying biasanya dilakukan oleh anak untuk menyakiti temannya dan umumnya terjadi berulang kali. Praktek ini bukan merupakan suatu yang kebetulan terjadi. Biasanya dilakukan oleh anak yang merasa lebih kuat, lebih berkuasa atau bahkan merasa lebih terhormat untuk menindas anak lain untuk mendapatkan kepuasan atau keuntungan tertentu. Sepanjang tahun 2018 terdapat beberapa kasus bullying yang menjadi momok dalam dunia pendidikan. Di sejumlah sekolah, aksi tidak terpuji itu masih terus terjadi dan terjadi lagi, bahkan cenderung diwariskan kepada siswa-siswa baru. Hal ini terjadi di hampir tingkatan dunia pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP sampai ketingkat SMA. Kajian Teori Fakta menunjukkan, Bullying berdampak secara fisik, psikis, dan sosial terhadap korban [1] (Ria Damayanti, 2016). Selain menurunnya prestasi belajar,bullying juga mengakibatkan dampak fisik, seperti kehilangan selera makan dan migrain. Korban