JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) 1 Abstrak— Hidroponik adalah budidaya tanaman dengan larutan air dan nutrisi terlarut[1]. Penyerapan nutrisi pada hidroponik dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan udara, pH, konduktivitas listrik, salinitas, oksigen, dan intensitas cahaya[2]. Secara umum pH dalam hidroponik merepresentasikan ketersediaan unsur dalam nutrisi, baik unsur makro maupun unsur mikro. Dari kontrol logika fuzzy (KLF) yang dirancang diperoleh hasil yaitu dengan melakukan pengujian pada hardware, dengan error awal pH 1.41 diperoleh performansi time delay (td) 10 detik, rise time 201 detik, settling time 468 detik , error steady state 0.601, RMSE 0.477, dan tidak terjadi maximum overshoot sehingga peak time 0 detik, pada semua pengujian yang dilakukan maxsimum overshoot 0 dan peak time 0 detik. Pada pengujian disturbance diperoleh hasil sistem dapat mengatasi gangguan yang diberikan berupa error. Pengujian terhadap tracking setpoint menunjukkan bahwasanya respon sistem dapat mengikuti perubahan setpoint yang telah di tentukan. Larutan nutrisi yang tidak ada pengendaliannya, pH larutan nutrisi cenderung menurun jika digunakan secara terus- menerus. Sedangkan dengan kontrol logika fuzzy , pH pada larutan nutrisi dapat dikontrol pada level setpoint yang telah ditentukan. Kata Kunci—Tuliskan 4 atau 5 buah kata kunci atau frasa menurut urutan alfabet dipisahkan dengan tanda koma. I. PENDAHULUAN iversifikasi pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan[3]. Salah satu upaya dalam mewujudkan ketahanan pangan yaitu dengan penenrapan sistem hidroponik. Hidroponik adalah budidaya tanaman dengan larutan air dan nutrisi terlarut[1]. kebanyakan sistem hidroponik tidak akan berhasil, yang diakibatkan oleh kurangnya aspek gizi dalam sistem sehingga diperlukan persiapan yang memadai untuk memenejemen larutan nutrisi. Beberapa. Salah satu metode hidroponik yaitu dengan dutch bucket, dutch bucket merupakan sistem budidaya hidroponik dimana nutrisi diberikan dalam bentuk tetesan yang menetes pada media tanaman secara terus menerus dan kelebihan dari nutrisi akan dialirkan melalui pipa pembuangan dan dikembalikan pada bak penampung nutrisi untuk digunakan kembali[1].Penyerapan nutrisi pada hidroponik dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan udara, pH, konduktivitas listrik, salinitas, oksigen, dan intensitas cahaya[2]. Nutrisi yang seimbang sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas produk dari hidroponik ataupun konvensional. Secara umum, tanaman dapat menyerap elemen nutrisi pada tingkat pH netral[4]. Apabila akar tanaman terkena pH rendah(contohnya, pH 2-3) untuk beberapa detik, dapat menghasilkan kerusakan secara langsung pada akar[5]. Pada tahun 1984 Nielsen mengusulkan Kontrol nutrisi dalam larutan nutrsi menggunakan sistem otomatis, dengan kontrol untuk penyesuaian level air , konsentrasi nutrisi, dan pH. Penggunaan kontrol otomatis memberikan peluang untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas melalui pengelolaan yang baik dari semua proses[2]. Penyerapan nutrisi oleh akar salah satunya ditentukan oleh pH lingkungan akar, sehingga diperlukan kontrol pH pada larutan nutrisi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan yaitu pada tahun 2001 dilakukan penelitian dengan judul “Development of a pH Control System for Nutrient Solution In Ebb And Flow Hydroponic Culture Based on Fuzzy Logic” pada penelitian ini menunjukkan bahwa sistem yang tidak dikontrol pH nya, pH akan meningkat jika digunakan secara terus menerus, sedangkan pada sistem yang dikontrol pH akan dipertahankan pada setpointyang telah ditentukan. Pada tahun 2012 dilakukan penelitian dengan judul “Automated system developed to control pH and concentration of nutrient solution evaluated in hydroponic lettuce production” pada penelitian ini sistem yang dirancang menunjukkan hasil yang efesien dalam monitoring dan perbaikan pH dan EC dari hidroponik selada, hasil diperoleh dengan membandingkan karakteristik argonomi pada dua tanaman yang menggunakan sistem hidroponik kontrol otomatis dengan konvensional yang ditanam ditanah. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Dutch Bucket System Nama metode dutch bucket pertama kali di kenalkan di belanda dan sekarang secara ekstensif digunakan untuk pertanian komersial untuk mawar, tomat, dan timun. Dutch bucket merupakan sistem budidaya hidroponik dimana nutrisi diberikan dalam bentuk tetesan yang menetes pada media tanaman secara terus menerus dan kelebihan dari nutrisi akan dialirkan melalui pipa pembuangan dan dikembalikan pada bak penampung nutrisi untuk digunakan kembali. Mediatanam yang digunakan dalam dutch bucket seperti serabut kelapa, IMPLEMENTASI KONTROL LOGIKA FUZZY(KLF) DALAM PENGENDALIAN KADAR KEASAMAN(pH) HYDROPONIC DUTCH BUCKET SYSTEM PADA TOMAT CHERRY Wilujeng Fitri Alfiah, Hendra Cordova, S.T.,M.T. Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri,Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: wilujeng.ep11@gmail.com; hcordova@ep.its.ac.id D CORE Metadata, citation and similar papers at core.ac.uk Provided by ITS Repository