PROSIDING SEMINAR NASIONAL III TAHUN 2017 “Biologi, Pembelajaran, dan Lingkungan Hidup Perspektif Interdisipliner” Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017 Rahardjo & Prasetyaningsih, Distribusi dan Akumulasi Krom 330 available at http://research-report.umm.ac.id/index.php/ DISTRIBUSI DAN AKUMULASI KROM DI LINGKUNGAN KAWASAN INDUSTRI KULIT DESA BANYAKAN Crom Distribution and Accumulation in Leather Industry Area “Banyakan” Village Djoko Rahardjo 1 , Aniek Prasetyaningsih 2 1, 2 Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana, Dr. Wahidin 5-9 C Yogyakarta, HP. 08122950401 e-mail korespondensi: djoko@staff.ukdw.ac.id ABSTRAK Kecenderungan meluasnya distribusi serta meningkatnya konsentrasi dan akumulasi krom dilingkungan menjadi ancaman potensial bagi kesehatan masyarakat di sekitar kawasan industri. Oleh karena itu perlu dilakukan monitoring lanjutan untuk mengetahui pola pencemaran krom dilingkungan. Penelitian dilakukan kawasan aliran pembuangan limbah cair industri kulit yang berada di desa Banyakan yang meliputi 5 titik pengambilan sampel dengan jenis media yaitu sampel air, sedimen, tanah, tanaman, hewan serta kuku dan rambut. Prosedur analisa Cr untuk sampel air berdasar pada APHA/AWWA/WEF Standard Methods, 20th Edition, 2001. Konsentrasi logam berat dianalisis dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrometer (AAS), tipe flame dengan sistem duplo. Dari penelitian diketahui bahwa krom dari pembuangan limbah cair industri penyamakan kulit di dusun Banyakan merupakan sumber utama krom di lingkungan dan terdistribusi dalam komponen lingkungan seperti air (8.83 mg/l), sedimen (89.22 mg/kg), tanah (15.67 mg/kg), air sumur (0.43 mg/l), tanaman (3.43 mg/kg), hewan akuatik (8.6 mg/kg). Krom pada sedimen, tanaman, dan hewan akuatik memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibanding hasil penelitian tahun 2014 dan 2015. Akumulasi krom juga ditemukan pada rambut dan kuku masyarakat desa Banyakan. Namun demikian buangan limbah PT B dan konsentrasi krom dalam air sungai yang relatif berfluktuasi. Kata kunci: akumulasi, banyakan, distribusi, krom. ABSTRACT The tendency of expanding distribution and increasing concentration and accumulation of chromium in the environment becomes a potential threat to public health around the industrial area. Therefore it is necessary for further monitoring to determine the pattern of chromium pollution in the environment. The study was conducted in liquid waste disposal flow area of leather industry in Banyakan village which includes 5 types of sampling,i.e. sample of water, sediment, soil, plants, and animals as well asthe nails and hair. Cr analytical procedures for water samples was based on APHA / AWWA / WEF Standard Methods, 20th Edition, 2001. The amount of heavy metal concentrations were analyzed using Atomic Absorption Spectrometer (AAS), the type of flame. This procedure was done with the Duplo system. The study found that chromium derived from liquid waste disposal tanning industry in the Banyakan village is the main source of the concentration of chromium in the environment and is distributed to almost all components of the environment such as water (8.83 mg / l), sediment (89.22 mg / kg), soil ( 15.67 mg / kg), water wells (0.43 mg / l), plants (3:43 mg / kg), aquatic animals (8.6 mg / kg). The concentration of chromium in the sediment, plants and aquatic animals was found in higher concentrations compared to the results in 2014 and 2015. Disposal activities of the liquid waste in leather industry has the potential to cause health problems by increasing the accumulation of chromium in hair and nails of Banyakan village citizens. The pattern of chromium pollution in the environment for the year of 2014 – 2016 generally continues to increase, except for the sewage of PT B and the concentration of chromium in the river water which relatively fluctuate. Keywords: accumulation, banyakan, distribution, chromium Industri penyamakan kulit merupakan salah satu jenis industri yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar dan potensial menimbulkan masalah pencemaran karena penggunaan bahan-bahan kimia. Industri penyamakan kulit sebagian besar menggunakan proses penyamakan secara kimia dengan menggunakan krom yang membutuhkan banyak air. Dari penelitian yang dilakukan Rahardjo (2014) tentang profil cemaran krom di lingkungan kawasan industri diperoleh hasil bahwa ditemukan 3 perusahaan pengolahan kulit membuang limbah ke saluran irigasi dan kemudian masuk ke sungai, dengan kisaran konsentrasi Dari aktivitas pembuangan limbah cair industri kulit yang mengandung krom ke lingkungan dengan konsentrasi yang tinggi dan berlangsung secara terus menerus akan meyebabkan logam berat krom terdistribusi secara luas ke berbagai komponen lingkungan desa Banyakan, baik air irigasi, air sumur, sedimen, tanah, berbagai jenis tanaman pangan, hewan akuatik, bahkan juga ditemukan terakumulasi pada rambut dan kuku warga masyarakat desa Banyakan (Rahardjo, 2014). Konsentrasi akumulasi krom ditemukan berkisar antara 0.024-1.904 mg/kg pada rambut dengan rata-rata sebesar 0.77 mg/kg, konsentrasi ini lebih tinggi bila dibanding besarnya krom yang terakumulasi pada kuku, yaitu berkisar antara 0.059-0.422 dengan nilai rata- rata sebesar 0.23 mg/kg. Ditemukan akumulasi krom pada sampel rambut dan kuku membuktikan bahwa aktivitas industri kulit terbukti mencemari lingkungan serta berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan (Rahardjo, 2014). Dari penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo